Plt Bupati Bangka Ajak Masyarakat Dukung Depati Amir Jadi Pahlawan Nasional

Plt Bupati Bangka Rustamsyah menilai Adat Mandi Belimau sebagai tradisi masyarakat Merawang yang memiliki nilai budaya luhur.

Plt Bupati Bangka Ajak Masyarakat Dukung Depati Amir Jadi Pahlawan Nasional
Bangka Pos / Nurhayati
Plt Bupati Bangka Rustamsyah bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Babel Ahmad Rivai, Anggota DPRD Bangka Hendra Yunus berfoto bersama keturunan Depati Bahrin pada acara Mandi Belimau, Minggu (13/5/2018) di Lubuk Bunter Desa Jada Bahrin. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA--Plt Bupati Bangka Rustamsyah menilai Adat Mandi Belimau sebagai tradisi masyarakat Merawang yang memiliki nilai budaya luhur.

Adat ini ada sejak jaman perjuangan bahkan merupakan warisan dari tokoh pejuang Bangka Depati Bahrin.

Untuk itu kegiatan tetap dilaksanakan dengan tujuan melestarikan, menggali dan mengapresiasikan hasil karya tokoh-tokoh terdahulu sehingga perlu dicontoh kepada generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai adat budaya daerah.

Hal ini dilakukan karena perkembangan teknologi saat ini dapat berpengaruh terhadap pelestarian maupun perkembangan budaya di daerah.

"Perlu adanya komitmen bersama untuk terus mempertahankan sampai ke lintas generasi berikutnya. Menghargai karya sejarah perjuangan yang diukir oleh para pejuang kita dahulu merupakan wujud kepedulian yang sangat positif seperti jejak perjuangan Depati Amir dan Depati Bahrin," ungkap Rustamsyah saat pelaksanaan Ritual Adat Mandi Belimau, Minggu (13/5/2018) di Lubuk Bunter Desa Jada Bahrin.

Bahkan Pemerintah Provinsi Babel dibantu oleh sejarawan Akhmad Elvian dan Ali Usman berupaya mengajukan kembali Depati Amir sebagai pahlawan nasional dengan berkas setebal 2.000 halaman dan tujuh bagian.
Berkas Depati Amir tersebut sudah sampai ke kementerian sosial 27 April 2018.

"Mari kita semua untuk mendoakan agar Depati Amir ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2018 oleh Presiden Republik Indonesia," ajak Rustamsyah.

Menurutnya di pinggir hulu Sungai Baturusa terdapat bekas kampung peninggalan Depati Bahrin yang dibakar pasukan Hindia Belanda pada tajun 1848. Kampung itu bernama Menareh atau Menara/Mandara. "Saat ini kita ada di makam Depati Bahrin ayah Depati Bahrin. Dua tempat itu menjadi saksi bisu perjuangan pahlawan kita," ungkap Rustamsyah.

Untuk itu dilaksanakan kegiatan napak tilas oleh panitia sebagaimana mengenang nilai-nilai kepahlawanan Depati Bahrin dan Depati Amir agar tertanam di setiap generasi muda.

Tradisi ini juga berkaitan erat dengan budaya melayu yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan Islam yang menjadi ruh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bangka.

Selain itu juga berkaitan dengan tradisi Mandi Belangir yang dulu dipraktekan masyarakat Melayu terutama pelaku persilatan Bangka.

"Kita berharap tradisi ini terus dilaksanakan dan dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata. Pada tahun depan tradisi ini akan dikemas dalam bentuk Festival Sang Depati yaitu merupakan penggabungan potensi wisata sejarah, wisata alam, (sungai Baturusa, hutan peninggalan Hindia Belanda/Boswezen), wisata budaya dan agrowisata. Saya yakin Desa Kimak akan menjadi salah satu destinasi wisata dan akan berpengaruh terhadap sosial ekonomi masyarakat," harap Rustamsyah.(*)

Penulis: nurhayati
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help