Dewan Pers Minta Wartawan Ikuti Pedoman Peraturan Ini Ketika Liput Peristiwa Terorisme

"Selain itu, para wartawan harus berhati-hati dalam menulis berita terorisme agar tidak menyinggung

Dewan Pers Minta Wartawan Ikuti Pedoman Peraturan Ini Ketika Liput Peristiwa Terorisme
Bangkapos/Yudha Palistian
Ketua Dewan Pers, Yosef Adi Prasetyo . 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Yudha Palistian

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- "Hingga saat ini, Dewan Pers menerima banyak keluhan terkait pemberitaan tentang terorisme yang dianggap tidak profesional. Misalnya tidak mengedepankan asas praduga tak bersalah, tidak akurat, menonjolkan gambar sadisme, atau tidak berimbang," ujar Ketua Dewan Pers, Yosef Adi Prasetyo kepada Bangka Pos, Kamis (17/5/2018).

Yosef pun menambahkan, siaran langsung tentang kejadian terorisme juga banyak diprotes.

Menyikapi masalah ini, Pedoman Peliputan Terorisme melarang pers memberitakan secara rinci atau detail peristiwa terorisme.

"Misalnya ketika terjadi pengepungan atau saat aparat kepolisian melumpuhkan para tersangka terorisme. Tujuannya untuk menjaga keselamatan anggota aparat yang sedang berupaya melumpuhkan para teroris," tuturnya.

Ia juga mengungkapkan, Dewan Pers mengesahkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pedoman Peliputan Terorisme.

Seluruh pers nasional diminta untuk mempedomani peraturan ini ketika meliput peristiwa terorisme.

"Selain itu, para wartawan harus berhati-hati dalam menulis berita terorisme agar tidak menyinggung kelompok tertentu, mengedepankan prinsip asas praduga tak bersalah terhadap orang yang baru ditangkap yang diduga teroris," ungkapnya.

Pedoman Peliputan Terorisme meminta wartawan tidak memenuhi undangan untuk meliput aksi terorisme sertq segala informasi yang menyangkut rencana aksi teroris harus dilakukan verifikasi secara sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.(*)

Penulis: Yudha Palistian
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help