Hasil Penelitian, Pertambangan di Masa Belanda Justru Lebih Ramah Lingkungan

Pertambangan di masa Belanda justru dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pertambangan sekarang.

Hasil Penelitian, Pertambangan di Masa Belanda Justru Lebih Ramah Lingkungan
Bangka Pos / Dedy Qurniawan
Suasana diskusi setelah buka bersama yang diadakan Walhi Babel di Sekretariat Walhi Babel, Jalan Belanak Raya, Kelurahan Air Salemba, Kecamatan Pangkalbalam, Kamis (31/5/2018) malam. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BANGKA-Pertambangan di masa Belanda justru dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan pertambangan sekarang.

Hal ini merupakan temuan penelitian, Darwance, akademisi yang meneliti sejarah pertambangan di Babel dari aspek regulasinya.

"Contohnya, Belanda melarang membuka tambang di DAS. Belanda sangat melarang pertambangan di area perkebunan warga, dan pemukiman warga dan garis pantai," kata Darwance pada acara buka bersama dan diskusi Walhi Babel bertajuk "Tiga Abad Tambang Timah di Babel" di Sekretariat Walhi Babel, Kelurahan Air Salemba, Kecamatan Pangkalbalam, Pangkalpinang, Kamis (31/5/2018) malam tadi.

"Alasannya karena itu merusak lingkungan. Walaupun faktanya tidak ada tambang yang tidak merusak lingkungan. Ini salah satu fakta menarik yang kami temukan ketika melakukan riset pertambangan timah dari sejak zaman kesultanan Palembang hingga keran itu dibuka seluas-luasnya untuk menambang timah seperti sekarang ini," kata dia.

Pada paparannya, Dawrance mengatakan, sejarah timah di Babel sudah dimulai dari tiga abad lalu, atau jika dari literatur, tambang timah telah dimulai sejak 1702 oleh kesultanan Palembang. ‎Pertamabangan pada saat itu juga dikerjasamakan bersama VoC.

"hasilnya dijual ke VoC dengan harga yang sudaa ditetapkan. Inilah cikal bakal penyelundupan, yang terjadi sampai saat ini. Karena harga beli di Singapura itu dua kali lipat dibanding harga yang ditentukan Belanda di pulau Bangka. Kondisi alam yang masih bagus saat itu, memudahkan hasil timah dibawa lari ke luar. Tidak dijual ke Belanda tapi ke Singapura," papar Darwance.

Darwance juga mengungkapkan hasil penelitian yang telah diseminarkan di Universitas Jember itu memggenai pola perkampungan di Bangka yang sengaja dibentuk Belanda. Konsep perkampungan saat itu adalah perkampungan-perkampungan kecil tak lebih dari 20 KK yang merupakan kantung-kantung timah dan biasa disebut dengan parit.

"Tujuannya adalah supaya lebih mudah memantau peredaran timah dan juga lada. Jadi tiap periode tertentu, Belanda itu mengontrol," katanya.

Pengelolaan pertambangan terus berpindah dari tangan Belanda ke tangan Inggris dan kemudian kembali lagi ke tangan Belanda. Termasuk juga oleh Jepang yang saat itu dinilai lebih mengandalkan kekuatan militernya untuk mengontrol timah.

Sementara, saat Indonesia merdekapun saat orba dan orla yang mengontrol ketat timah. "Ketahuan bawa timah sesendok teh-pun itu bisa dipenjara. Inilah barangkali tidak ada orang yang berani ngomong soal timah pada zaman itu. Keran dibuka ketika reformasi, siapapun boleh menambang timah. Hingga jadilah silang sengkarut silang wewenang yang kita kenal hari ini," ujar Darwance. (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help