Kisah Surono, Tukang Pecah Batu yang Menghidupi 65 Anak Yatim

Di tengah-tengah keterbatasannya, Rono kini amat bahagia karena ada anak-anak asuh yatim piatu di sekitarnya

Kisah Surono, Tukang Pecah Batu yang Menghidupi 65 Anak Yatim
Moh Habib Asyhad
Surono dan anak yatim piatu asuhannya 

BANGKAPOS.COM--Pahlawan tidak harus mereka yang berperang di medan laga. Pahlawan tidak harus mereka yang memborong medali di sebuah ajang olahraga multinasional.

Menjadi pahlawan cukuplah mereka yang memiliki dedikasi tinggi terhadap sesamanya. Seperti Surono, seorang tukang pemecah batu yang menghidupi 65 anak yatim.

Surono lahir di Kebumen Jawa Tengah tahun 1958. Ia datang ke Ibukota dengan harapan meraup pundi-pundi rupiah demi membantu kehidupan orangtua di kota kelahirannya.

Laki-laki yang kini menempati sepetak kontrakan di Jl Cipinang Jaya IIB, RT 3/RW 9, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara, Jakarta Timur, ini mengatakan tertarik pergi ke Jakarta setelah melihat teman-temannya sukses mencari rezeki di Ibukota.

Tahun 1973, saat ada tawaran menjadi pembantu rumah tangga di rumah pengusaha toko bangunan di sekitar Rawamangun, tak pikir panjang, ia pun langsung menerimanya.

“Ya sudah, yang penting saya sampai Jakarta, ke Jakarta gratis lagi,” ujar Surono seraya kembali mengingat masa lalunya.

Beberapa lama bekerja menjadi pembantu toko, Rono pun “naik pangkat”. Kali ini dia ditugaskan menjadi penarik gerobak di toko bangunan milik majikannya.

Hidup sendiri membuat Rono ingin segera menikah. Perempuan yang menjadi idamannya adalah pelayan yang juga bekerja di tempat tersebut.

“Iya setiap hari ketemu lama-lama saling suka, dan bos akhirnya tahu, 1977 saya dinikahkan,” kata Rono.

Satu tahun berselang istrinya mengandung. Namun menjelang usia kandungan 7 bulan, sang istri sakit darah tinggi.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help