Pemerintah Tidak Bisa Kendalikan Harga Komoditi Perkebunan

Harga Komoditi perkebunan di Provinsi Kepualauan Bangka Belitung beberapa waktu ini kurang menggembirakan.

Pemerintah Tidak Bisa Kendalikan Harga Komoditi Perkebunan
Bangka Pos / Krisyanidayati
Gubernur Babel rapat bersama petani dan koperasi sawit di Ruang Rapat Tanjung Pesona, Kamis (21/6/2018). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Harga Komoditi perkebunan di Provinsi Kepualauan Bangka Belitung beberapa waktu ini kurang menggembirakan.

Gubernur Babel, Erzaldi Rosman turut menanggapi keluhan merosotnya harga komoditi ini seperti lada, karet dan sawit.

Erzaldi menyebutkan, pemerintah tidak bisa mengendalikan harga pasar, oleh karena ia mengajak masyarakat untuk meningkatkan produktivitas komoditi.

"Kita harus menyamakan persepsi, kita tidak bisa mengendalikan harga, apapun namanya komoditi baik karet, lada, sawit, kopi, tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah," kata Erzaldi saat rapat bersama koperasi dan petani sawit di ruang rapat Tanjung Pesona, Kamis (21/6/2018).

Ia menyebutkan, untuk lada pemerintah provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui resi gudang berusaha membantu petani agar dapat menitipkan lada dan tetap mendapatkan modal.

"Resi gudang ini program yang lama, baru dipakai di Babel. Mengembalikan kejayaan lada multi fase, begitu harga turun, petani asal panen murah. Disuruh ikut program pemerintah enggak, resi gudang sahang ini belum dijual tapi dititipkan di gudang, kalau titip 1 juli Rp 50 ribu kita diberikan resi untuk bisa mencairkan 70 persen dari harga yang kita titipkan. Kalau selama ini kan jual putus dengan tengkulak walaupun harga murah," jelasnya.

Sedangkan untuk sawit, Erzaldi mewacanakan akan membangun pabrik pengolahan sawit di Babel untuk menampung sawit masyarakat. Namun, hal ini baru sebatas wacana, pasalnya harus mendapatkan kesepakatan dengan DPRD Babel dan juga Koperasi dan petani sawit.

"Lewat koba antri mobil antri sawit sampai ke Arung Dalam untuk masukin sawit ke perusahaan inilah kami berencana melalui BUMD akan dirapatkan bikin pabrik pengolahan sawit kapasitas 15 ton per jam dengan ekstra 30 ton per jam," ujarnya.(*)

Penulis: krisyanidayati
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved