Menang Telak Usai Kalahkan 5 Pesaing, Recep Tayyip Erdogan Bakal Lakukan 4 Kebijakan Penting

Menang Telak Usai Kalahkan 5 Pesaing, Recep Tayyip Erdogan Bakal Lakukan 4 Kebijakan Penting

Menang Telak Usai Kalahkan 5 Pesaing, Recep Tayyip Erdogan Bakal Lakukan 4 Kebijakan Penting
YASIN BULBUL / AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. 

SERAMBINEWS.COM, ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menang pemilihan umum presiden dengan meraih lebih dari setengah dari total suara yang sah.

Dilansir dari AFP, Senin (25/6/2018), kepala otoritas pemilu Turki Sadi Guven mengatakan, Erdogan mendapat suara mayoritas mutlak dari semua surat suara resmi.

Namun, Guven tidak memberikan rincian lebih lanjut.

//

"Presiden Recep Tayyip Erdogan mendapat suara mayoritas absolut dari semua suara yang valid," katanya.



Pendukung Erdogan berparade di jalan merayakan kemenangan pemilu.
Pendukung Erdogan berparade di jalan merayakan kemenangan pemilu. (GETTY IMAGES)

Sementara itu, laporan dari kantor berita Anadolu berdasarkan data dari YSK, Dari 99% suara yang telah dihitung, Erdogan meraih 53% suara.

//

Erdogan mengalahkan rival kuatnya, Muharrem Ince yang memperoleh 31% dukungan, demikian tulis media pemerintah Turki, Anadolu.

Dengan begitu, pria berusia 64 tahun itu kembali menduduki kursi nomor satu di negara tersebut.

 

Hasil akhir resmi pemilu Turki akan diumumkan pada Jumat (29/6/2018).

"Masyarakat kita telah memberi kami tugas untuk melaksanakan jabatan presiden dan eksekutif," kata Erdogan dalam pernyataan singkat di televisi, menanggapi hasil tidak resmi pemilu.

Erdogan juga mengumumkan bahwa Aliansi Rakyat, koalisi antara Partai Keadilan dan Pembangunannya yang berkuasa (AKP) dan Partai Gerakan Nasionalis (MHP), telah memenangkan mayoritas parlemen dalam pemilihan legislatif.

 

Tidak hanya itu, Erdogan juga menyebut partainya, AK, juga meraih mayoritas suara di parlemen, dalam pemilu legislatif yang diselenggarakan bersamaan dengan pilpres pada Minggu (24/06).

Dari 96% suara yang sudah masuk, partai AK memimpin dengan 42% suara, sementara partai oposisi, CHP, 23% suara.

"Turki telah memberi pelajaran demokrasi kepada seluruh dunia," cetus Erdogan.

Di lain pihak, kubu oposisi belum secara resmi menyatakan kekalahan.

Namun, mereka menegaskan akan melanjutkan pertarungan demokrasi "apapun hasilnya"

 

Presiden Turki sekaligus pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine Erdogan menyambut massa dari balkon markas Partai AK, Senin (25/6/2018).
Presiden Turki sekaligus pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan dan istrinya Emine Erdogan menyambut massa dari balkon markas Partai AK, Senin (25/6/2018). (ANADOLU AGENCY/KAYHAN OZER)

BBC melaporkan, dalam konstitusi baru Turki yang akan berlaku setelah pemilu, presiden akan memagang kekuasaan cukup besar.

Jabatan perdana menteri akan dibatalkan dan presiden akan memperoleh kekuatan baru, termasuk kemampuan untuk secara langsung menunjuk pejabat senior dan campur tangan dalam sistem hukum.

Erdogan telah memerintah Turki selama lebih dari 15 tahun sebagai perdana menteri dan presiden.

"Saya bersyukur kepada Tuhan atas hari yang indah," kata seorang warga bernama Ahmet Dindarol yang ikut dalam perayaan kemenangan Partai AK di Istanbul.

"Kami memilih Recep Tayyip Erdogan sebagai presiden Turki. Kami berdoa banyak untuk dia," imbuhnya, seperti dilansir dari Al Jazeera.

 

Jumlah pemilih tinggi, tidak terjadi 'gejolak'

Muharrem Ince berikrar menjadi pemimpin nonpartisan jika terpilih.
Muharrem Ince berikrar menjadi pemimpin nonpartisan jika terpilih. (AFP)

Media pemerintah Turki, Anadolu, menyebut jumlah pemilih yang datang memberikan suara mencapai 87%.

"Saya harap tidak ada yang akan mencurangi hasil ini," kata Erdogan.

Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Fahmi Aris Innayah, mengungkapkan hasil tersebut 'menandakan kemenangan demokrasi Turki'.

"Karena tingkat partisipasinya cukup tinggi. Dan salah satu yang menggembirakan pula karena tidak ada gejolak apapun dalam penyelenggaraan pemilu ini," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, melalui sambungan telepon pada Minggu malam (24/06).

Fahmi menyebut tantangan terbesar Erdogan adalah pengendalian tingkat inflasi yang telah mencapai 11% dan penurunan angka pengangguran.

Selain itu, penyelesaian kasus pemberontakan, menjadi fokus lain tantangan dalam negeri, di samping isu Suriah dan ISIS, di kawasan.

"Turki juga bertekad untuk mandiri di bidang teknologi. Ingin punya persenjataan yang maju, Ingin menguasai (sistem misil) S-400 dan (pesawat tempur) F-35. Selain itu, ada tekad kuat juga untuk menjadi anggota Uni Eropa."

 

Jika Erdogan menang, apa yang akan terjadi?

Dia akan memulai masa jabatannya yang kedua dengan supergesit.

Dulu jabatan presiden di Turki tak lebih dari jabatan seremonial.

Namun, pada April 2017, 51% pemilih Turki mendukung konstitusi baru yang memberikan presiden sejumlah wewenang kuat.

Di antaranya:

1. Menunjuk langsung pejabat publik di posisi penting, termasuk menteri dan wakil presiden

2. Mencampuri sistem hukum

3. Menerapkan status darurat

4. Menghapus jabatan perdana menteri

Pihak pengkritik menuding Erdogan mencoba memerintah seorang diri, dan lawan politiknya menyebut kekuasaannya tidak akan mendatangkan perubahan.

Jika pilpres dan pemilihan umum legislatif sama-sama dimenangi Erdogan dan partai AK, lanskap politik Turki tidak akan banyak berubah.

Kumpulan massa menyambut Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan yang berada di balkon markas Partai AK, Turki, Senin (25/6 2018).
Kumpulan massa menyambut Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AK Party) Recep Tayyip Erdogan yang berada di balkon markas Partai AK, Turki, Senin (25/6 2018). (ANADOLU AGENCY/KAYHAN OZER)

Namun, jika hasilnya berbeda, ketidakstabilan politik dikhawatirkan bisa terjadi.

Sejak percobaan kudeta pada 2016, Turki telah mengalami masa sulit.

Lebih dari 160.000 orang ditahan, menurut PBB, sebagai bagian dari upaya pembersihan pengaruh Fethullah Gulen—ulama yang dituding pemerintah Turki berada di balik upaya kudeta.

Gulen sendiri membantah keterlibatan apapun. (Kompas.com/BBC)

 

Editor: teddymalaka
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help