Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, ini yang jadi biang kerok

Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

"Ini karena impor Indonesia masih lebih besar dari ekspornya, jadi kebutuhan dolar AS juga semakin besar," ucap Willgo.

Selain untuk kebutuhan impor, dolar AS juga kerap digunakan untuk pembayaran dividen sebuah perusahaan kepada pemegang saham dan pembayaran utang berdenominasi dolar AS.

"Kalau kondisi ini tidak dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sementara kebutuhan import Indonesia terus meningkat baik untuk manufaktur, pangan, dan barang modal, maka tentu ini menjadi beban ekonomi dalam negeri," jelasnya.

Agak berbeda dengan Mekeng, Willgo justru berpendapat jika BI terus memanfaatkan cadev untuk meredam pelemahan rupiah dan memutuskan untuk terus-menerus menaikkan suku bunga acuan, maka hal itu akan memberatkan perekonomian Indonesia.

Jumlah cadev tentu akan berkurang dan kenaikan suku bunga acuan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri, karena beban biaya utang perusahaan meningkat.

"Idealnya pacu ekspor dan batasi impor. Eksportir diminta mengembalikan hasil ekspornya lebih besar lagi ke dalam negeri. Dolar AS masuk ke Indonesia diupayakan lebih banyak lagi," pungkasnya. (Tribunnews/kontan.co.id/ccnindonesia)

Editor: teddymalaka
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help