Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya

Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, ini yang jadi biang kerok

Terlemah Sejak Oktober 2015, Rupiah Tersungkur ke Level Rp 14.344 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

JAKARTA, BANGKA POS  - Minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat pergerakan nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan sore ini, Kamis (28/6/2018) melemah cukup dalam kel level Rp 14.344 per dolar AS.

Sementara, data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan, nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp 14.271 per dolar AS. Posisi ini merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir sejak Oktober 2015 lalu.

Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menilai, minimnya sentimen positif tersebut membuat laju Rupiah kembali tertahan kenaikannya.

Adanya pernyataan kontradiksi dari Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, yang pesimis pertumbuhan ekonomi kuartal dua 2018 tidak akan mencapai 5,2 persen, menahan penguatan Rupiah.

Padahal sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani, menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua dapat mencapai 5,2 persen lebih baik dari periode kuartal pertama sebesar 5,06 persen.

“Meningkatnya minat pelaku pasar terhadap mata uang safe haven selain dolar AS untuk mengantisipasi masih adanya sentimen perang dagang AS-Tiongkok dikhawatirkan dapat membuat Rupiah kembali melemah,” kata Reza.

Sementara, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono berpendapat, setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah melemah.

Pertama, adalah sikap pelaku pasar yang masih khawatir akan potensi terjadinya perang dagang AS-Tiongkok.

“Karena pelemahan rupiah termasuk yang paling besar di antara negara-negara emerging markets, maka patut diduga ada faktor internal kita,” kata Tony, kepada Tribunnews.com, Kamis (28/6/2018).

Selanjutnya, Tony menilai neraca perdagangan pada Mei 2018 yang kembali mengalami defisit senilai 1,52 miliar dolar AS, Sementara itu, secara tahun kalender pada periode Januari hingga Mei 2018, nercara perdagangan mengalami defisit sebesar 2,83 miliar dolar AS. 

“Saya duga, kinerja neraca perdagangan yg masih defisit pada bulan Mei ikut menekan rupiah. Faktor lain juga merosotnya cadangan devisa menjadi 122 miliar dolar AS,” tandasnya.

Terlemah Sejak Oktober 2015

Nilai tukar rupiah semakin tertekan menjelang akhir semester pertama. Kamis (28/6), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia berada di level Rp 14.271 per dollar Amerika Serikat (AS).

Rupiah melemah 0,76% jika dibandingkan dengan posisi Selasa yang ada di Rp 14.163 per dollar AS. Ini adalah posisi terlemah rupiah Jisdor sejak 7 Oktober 2015.

Di pasar spot pukul 10.44 WIB, nilai tukar rupiah berada di Rp 14.284 per dollar AS. Ini adalah level terlemah rupiah terhadap dollar AS sejak 6 Oktober 2015.

Dalam sehari perdagangan, rupiah di pasar spot melemah 0,74%. Menurut data Bloomberg, rupiah telah melemah 5,10% sejak awal tahun.

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar ketiga di Asia setelah rupee yang melemah 7,13% dan peso Filipina yang melemah 6,83%.

Sementara itu, indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 3,39% secara year to date (ytd). Hari ini, indeks dollar melemah tipis ke 95,24. Meski melemah, indeks dollar sepanjang bulan Juni terus mencatat level tertinggi tahun ini.

The Fed 'Biang Kerok'

Melansir artikel CNN Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menunjuk kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve menjadi pangkal masalah terpuruknya rupiah saat ini. Diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuan pada pertengahan Juni 2018 sebesar 25 basis poin.

Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Markus Mekeng menyebutkan kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat investor semakin tertarik untuk melakukan investasi di AS, karena risikonya semakin rendah dengan keuntungan yang lebih tinggi.

"Ini persoalan pasar modal dan pasar uang, kalau untuk ekonomi riil-nya ekspor dan impor hanya berpengaruh kecil, tapi ini lebih kepada persoalan pasar uang dan pasar modal," ungkap Mekeng kepada CNNIndonesia.com.

Hingga saat ini, Indonesia memang belum bereaksi usai The Fed menaikkan suku bunga acuan yang kedua kalinya pada pertengahan bulan ini. Apalagi, pengumuman dilakukan bertepatan dengan Lebaran di Indonesia. Walhasil, BI baru melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada akhir Juni 2018.

"Dari sisi moneternya, ini investor melihat kok BI belum ada intervensi, suku bunga acuan dalam negeri tidak ikut dinaikkan. Ya mereka (investor) jual portofolio dan langsung beli dolar AS," kata Mekeng.

Makanya, Mekeng menyebut BI bisa melakukan dua hal untuk menyelematkan rupiah, salah satunya dengan intervensi menggunakan cadangan devisa (cadev). Bila tidak berhasil, maka BI memang harus menaikkan suku bunga acuan.

"Hanya itu," tegas Mekeng.

Sependapat, Anggota Komisi XI DPR RI Willgo Zainar menilai kenaikan suku bunga The Fed berhasil membuat dolar AS kembali ke negaranya, sehingga mata uang Paman Sam itu terus terapresiasi.

"Tentu, ini tekanan global yang semakin kuat," tutur Willgo.

Dari sisi internal sendiri, kata Willgo, kondisi neraca perdagangan Mei 2018 yang masih defisit ikut menekan nilai tukar rupiah hingga terus bertahan di area Rp14 ribu per dolar AS.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018 kembali defisit sebesar US$1,52 miliar secara bulanan, sedangkan secara year to date atau Januari-Mei 2018 neraca perdagangan defisit sebesar US$2,83 miliar.

"Ini karena impor Indonesia masih lebih besar dari ekspornya, jadi kebutuhan dolar AS juga semakin besar," ucap Willgo.

Selain untuk kebutuhan impor, dolar AS juga kerap digunakan untuk pembayaran dividen sebuah perusahaan kepada pemegang saham dan pembayaran utang berdenominasi dolar AS.

"Kalau kondisi ini tidak dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sementara kebutuhan import Indonesia terus meningkat baik untuk manufaktur, pangan, dan barang modal, maka tentu ini menjadi beban ekonomi dalam negeri," jelasnya.

Agak berbeda dengan Mekeng, Willgo justru berpendapat jika BI terus memanfaatkan cadev untuk meredam pelemahan rupiah dan memutuskan untuk terus-menerus menaikkan suku bunga acuan, maka hal itu akan memberatkan perekonomian Indonesia.

Jumlah cadev tentu akan berkurang dan kenaikan suku bunga acuan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri, karena beban biaya utang perusahaan meningkat.

"Idealnya pacu ekspor dan batasi impor. Eksportir diminta mengembalikan hasil ekspornya lebih besar lagi ke dalam negeri. Dolar AS masuk ke Indonesia diupayakan lebih banyak lagi," pungkasnya. (Tribunnews/kontan.co.id/ccnindonesia)

Editor: teddymalaka
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved