Rupiah Kini Rp 14.330 per dollar AS, Begini Kata Sri Mulyani Soal Keterpurukan Rupiah

Rupiah Kini Rp 14.330 per dollar AS, Begini Kata Sri Mulyani Soal Keterpurukan Rupiah

Rupiah Kini Rp 14.330 per dollar AS, Begini Kata Sri Mulyani Soal Keterpurukan Rupiah
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Tampilan uang NKRI baru di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). 

BANGKAPOS.COM,  JAKARTA -- Rupiah di akhir pekan ini akhirnya mengerem pelemahan. Mengutip Bloomberg, perdagangan rupiah Jumat (29/6) ditutup dengan penguatan 0,44% ke level 14.330 per dollar AS, meski di perdagangan intrahari sempat melemah sampai Rp 14.415 per dollar AS.

Di kurs Bank Indonesia yang memperlihatkan perdagangan antarbank tadi pagi, rupiah di level Rp 14.404 per dollar AS, melemah 0,93%. 

Sepanjang pekan ini, rupiah di pasar spot tercatat melemah 1,73%. 

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah dalam sepekan ini masih diwarnai tekanan eksternal. Harga minyak yang naik setelah OPEC mengumumkan keputusannya akan meningkatkan produksi mereka, adanya rencana bank sentral Amerika (The Fed) yang mungkin menaikan suku bunga hingga dua kali lagi dalam tahun ini, dan perang dagang AS-China yang masih menjadi alasan utama investor mengamankan uangnya ke dollar AS dan mendorong pelemahan rupiah.

"Namun, pelemahan rupiah minggu ini sebagai salah satu respons dari kenaikan suku bunga acuan The Fed," Kata Joshua kepada Kontan, Jumat.

Sedangkan dari internal, data perdagangan Indonesia yang masih jelek membawa dampak dalam pergerakan rupiah

Dia menilai, rupiah sulit menyentuh angka Rp 13.000 per dollar AS untuk saat-saat ini. Kalau perang dagang melemah dan The Fed tidak akan agresif menaikan suku bunga hingga dua kali lagi, disitulah ada kemungkinan rupiah akan menguat kembali.

Joshua memperkirakan rupiah minggu depan akan berada di range Rp 14.100-14.350 per dollar AS.

Terlemah Sejak Oktober 2015

Nilai tukar rupiah semakin tertekan menjelang akhir semester pertama. Kamis (28/6), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) di Bank Indonesia berada di level Rp 14.271 per dollar Amerika Serikat (AS).

Rupiah melemah 0,76% jika dibandingkan dengan posisi Selasa yang ada di Rp 14.163 per dollar AS. Ini adalah posisi terlemah rupiah Jisdor sejak 7 Oktober 2015.

Di pasar spot pukul 10.44 WIB, nilai tukar rupiah berada di Rp 14.284 per dollar AS. Ini adalah level terlemah rupiah terhadap dollar AS sejak 6 Oktober 2015.

Dalam sehari perdagangan, rupiah di pasar spot melemah 0,74%. Menurut data Bloomberg, rupiah telah melemah 5,10% sejak awal tahun.

Rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan terbesar ketiga di Asia setelah rupee yang melemah 7,13% dan peso Filipina yang melemah 6,83%.

Sementara itu, indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 3,39% secara year to date (ytd). Hari ini, indeks dollar melemah tipis ke 95,24. Meski melemah, indeks dollar sepanjang bulan Juni terus mencatat level tertinggi tahun ini.

The Fed 'Biang Kerok'

Melansir artikel CNN Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menunjuk kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve menjadi pangkal masalah terpuruknya rupiah saat ini. Diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuan pada pertengahan Juni 2018 sebesar 25 basis poin.

Ketua Komisi XI DPR RI Melchias Markus Mekeng menyebutkan kenaikan suku bunga acuan The Fed membuat investor semakin tertarik untuk melakukan investasi di AS, karena risikonya semakin rendah dengan keuntungan yang lebih tinggi.

"Ini persoalan pasar modal dan pasar uang, kalau untuk ekonomi riil-nya ekspor dan impor hanya berpengaruh kecil, tapi ini lebih kepada persoalan pasar uang dan pasar modal," ungkap Mekeng kepada CNNIndonesia.com.

Hingga saat ini, Indonesia memang belum bereaksi usai The Fed menaikkan suku bunga acuan yang kedua kalinya pada pertengahan bulan ini. Apalagi, pengumuman dilakukan bertepatan dengan Lebaran di Indonesia. Walhasil, BI baru melaksanakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada akhir Juni 2018.

"Dari sisi moneternya, ini investor melihat kok BI belum ada intervensi, suku bunga acuan dalam negeri tidak ikut dinaikkan. Ya mereka (investor) jual portofolio dan langsung beli dolar AS," kata Mekeng.

Makanya, Mekeng menyebut BI bisa melakukan dua hal untuk menyelematkan rupiah, salah satunya dengan intervensi menggunakan cadangan devisa (cadev). Bila tidak berhasil, maka BI memang harus menaikkan suku bunga acuan.

"Hanya itu," tegas Mekeng.

Sependapat, Anggota Komisi XI DPR RI Willgo Zainar menilai kenaikan suku bunga The Fed berhasil membuat dolar AS kembali ke negaranya, sehingga mata uang Paman Sam itu terus terapresiasi.

"Tentu, ini tekanan global yang semakin kuat," tutur Willgo.

Dari sisi internal sendiri, kata Willgo, kondisi neraca perdagangan Mei 2018 yang masih defisit ikut menekan nilai tukar rupiah hingga terus bertahan di area Rp14 ribu per dolar AS.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2018 kembali defisit sebesar US$1,52 miliar secara bulanan, sedangkan secara year to date atau Januari-Mei 2018 neraca perdagangan defisit sebesar US$2,83 miliar.

"Ini karena impor Indonesia masih lebih besar dari ekspornya, jadi kebutuhan dolar AS juga semakin besar," ucap Willgo.

Selain untuk kebutuhan impor, dolar AS juga kerap digunakan untuk pembayaran dividen sebuah perusahaan kepada pemegang saham dan pembayaran utang berdenominasi dolar AS.

"Kalau kondisi ini tidak dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, sementara kebutuhan import Indonesia terus meningkat baik untuk manufaktur, pangan, dan barang modal, maka tentu ini menjadi beban ekonomi dalam negeri," jelasnya.

Agak berbeda dengan Mekeng, Willgo justru berpendapat jika BI terus memanfaatkan cadev untuk meredam pelemahan rupiah dan memutuskan untuk terus-menerus menaikkan suku bunga acuan, maka hal itu akan memberatkan perekonomian Indonesia.

Jumlah cadev tentu akan berkurang dan kenaikan suku bunga acuan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri, karena beban biaya utang perusahaan meningkat.

"Idealnya pacu ekspor dan batasi impor. Eksportir diminta mengembalikan hasil ekspornya lebih besar lagi ke dalam negeri. Dolar AS masuk ke Indonesia diupayakan lebih banyak lagi," pungkasnya. (Tribunnews/kontan.co.id/ccnindonesia)

Editor: teddymalaka
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help