KM Sinar Bangun Tenggelam di Kaldera Haranggaol yang Terbentuk dari Ledakan 500.000 Tahun Lalu

Posisi bangkai kapal Sinar Bangun berada di Kaldera Haranggaol yang meledak 500.000 tahun lalu.

KM Sinar Bangun Tenggelam di Kaldera Haranggaol yang Terbentuk dari Ledakan 500.000 Tahun Lalu
Tribun Medan
Keluarga korban menunggu di pinggir Danau Toba terkait kabar kerabatnya yang hilang, Jumat (22/6/2018). 

BANGKAPOS.COM, MEDAN - Berdasarkan beberapa penelitian, Gunung Toba mengalami tiga kali erupsi besar.

Letusan pertama terjadi sekitar 850.000 tahun lalu, membentuk kaldera di kawasan Porsea dan Sibaganding, sebelah utara Danau Toba.

Sementara letusan ketiga adalah yang terdahsyat, terjadi sekitar 74.000 tahun lalu. Besarnya material yang dimuntahkan menghasilkan Kaldera Toba, erupsi ini terkenal dengan sebutan Super Volcano.

Hal ini diungkapkan ahli geologi Gagarin Sembiring, Sabtu (30/6/2018). Kaldera tersebut kini menjadi kuburan bangkai KM Sinar Bangun

Baca: Danau Toba Tercipta dari Letusan Gunung Maha Dahsyat yang Nyaris Menamatkan Umat Manusia

"Posisi bangkai kapal Sinar Bangun berada di Kaldera Haranggaol yang meledak 500.000 tahun lalu. Letaknya di sebelah utara, ini wilayah terdalam Danau Toba," kata Gagarin.

Hasil penelitian terakhir yang dilakukan perguruan tinggi milik Amerika Serikat (AS), lanjut dia, kedalaman Danau Toba disebutkan 500-an meter lebih.

Menurut dia, kecelakaan karamnya KM Sinar Bangun bukan karena faktor karakteristik Danau Toba melainkan faktor human error dan meteorologi.

"Dengan kedalaman seperti itu, jasad dan bangkai kapal juga butuh waktu untuk sampai ke dasar meskipun dalam keadaan tanpa arus. Sehingga jasad korban juga butuh waktu untuk naik ke atas," kata Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Sumut ini.

Baca: Jasad Korban Tenggelamnya KM Sinar Bangun Masih Utuh dan Segar di Dasar Danau Toba

"Ini bisa dijadikan pertimbangan.. Kita juga belum pernah melakukan simulasi berapa kecepatan turun dan naiknya sehingga bisa memperkirakan berapa baru baru muncul di permukaan," sambungnya.

"Belum lagi kita bicara hipotesa lain, misalnya ternyata kapal awalnya berada di dasar yang miring, bukan yang terdalam. Lalu meluncur ke bawah, menyebabkan arus turbidit serta lumpur ke permukaan. Mungkin di bawah sudah tercampur lumpur," pungkas Gagarin.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved