Masih Tergantung Tangkapan di Laut, Begini Manisnya Laba Segar dari Cumi-cumi Laut Bangka

Menangkap cumi-cumi lebih mudah dibandingkan ikan laut. Dalam tiga hari melaut, kami bisa mendapatkan sekitar

Masih Tergantung Tangkapan di Laut, Begini Manisnya Laba Segar dari Cumi-cumi Laut Bangka
bangkapos/nurhayati
Perahu nelayan yang ditambat di Pantai Matras Sungailiat Bangka 

BANGKAPOS.COM-- Tekstur daging cumi yang kenyal dan gurih membuat cumi-cumi banyak diburu, khususnya oleh penggemar seafood.

Restoran seafood yang terus bermunculan tentu menjadi peluang usaha yang menguntungkan bagi para nelayan yang membudidayakan cumi-cumi.

"Menangkap cumi-cumi lebih mudah dibandingkan ikan laut. Dalam tiga hari melaut, kami bisa mendapatkan sekitar 300 kilogram cumi-cumi dan itu tidak perlu berlayar jauh hingga ke tengah laut," ujar Basri Hidayat, salah satu nelayan sekaligus pembudidaya cumi-cumi asal Bangka.

Ia mengatakan jika proses budidaya cumi-cumi berjalan alami, masih berlangsung di perairan laut.

Basri mengatakan para nelayan tradisional di wilayah Bangka lebih banyak memilih untuk menangkap cumi-cumi dibanding ikan. Alasannya, cumi-cumi mudah didapat dan harga jualnya cukup tinggi. Saat ini, harga cumi segar dibanderol sekitar Rp 65.000 - Rp 80.000 per kilogram (kg).

"Harga cumi itu jarang turun meskipun pasokan dari nelayan banyak, lebih cenderung stabil dibanding ikan maupun kerang," ujar Basri.

Ia mengatakan, selama ini permintaan cumi-cumi datang dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Bahkan, permintaan ekspor ke berbagai negara seperti Thailand, Vietnam, Singapura, Malaysia, Jepang dan Amerika Serikat juga makin meningkat tiap tahunnya.

"Permintaan cumi-cumi ni sebenarnya banyak sekali, pasti laku cepat. Tapi sayangnya, bibitnya masih terbatas karena hanya ada di alam saja. Jadi para nelayan ini kalau mau dapat banyak cumi, harus menunggu musimnya," jelas Basri.

Banyaknya permintaan cumi-cumi juga diakui oleh I Nyoman Turut, salah satu nelayan cumi-cumi dari Denpasar.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help