Pemangkasan Bukit Nunggal Dikomplain Warga, Ini Penjelasan Pihak Perusahaan

Metode pemangkasan menggunakan peledakan yang kita lakukan benar-benar mengacu Standart Operational

Pemangkasan Bukit Nunggal Dikomplain Warga, Ini Penjelasan Pihak Perusahaan
Ist
Kegiatan penyiraman jalan yang berdebu dari aktivitas pemangkasan bukit nunggal. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Hendra

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Bukit Manunggal, bukit yang berada di desa Air Mesu Timur, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Babel ini menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten Bangka Tengah.


Masyarakat Desa Mesu biasa menyebutnya Bukit Nunggal terletak disebelah selatan landasan pacu Bandara Depati Amir dimana bukit ini mempunyai ketinggian 220 meter dari atas permukaan laut.

Mengacu dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang penyelenggaraan bandar udara umum yang mengatur tentang Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan menyaratkan bahwa kawasan udara di sekitar bandar udara harus bebas dari segala bentuk hambatan yang akan mengganggu pergerakan pesawat udara dengan menetapkan batasan ketinggian tertentu terhadap objek-objek di sekitar bandar udara.


Sesuai dengan KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) Bukit ini masuk kategori tidak aman untuk operasi penerbangan.


Pesawat yang akan turun maupun lepas landas dari Bandara Depati Amir selama ini selalu memutar untuk menghindari bukit tersebut.

Untuk itu dilakukan pemangkasan sebanyak 103 meter sehingga mencapai ketinggian aman menurut KKOP menjadi 117 meter.


Guna mencapai target optimalisasi KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah bekerjasama dengan  PT Vitrama Properti melaksanakan proyek pemangkasan bukit Manunggal.

Metode pemangkasan bukit nunggal menggunakan peledakan (blasting,red) yang diatur secara ketat sesuai Standart Operational Procedur (SOP) yang berlaku.

“Metode pemangkasan menggunakan peledakan yang kita lakukan benar-benar mengacu Standart Operational Procedur (SOP) yang berlaku, jadi bukan sembarangan meledakkan. Kita juga menghitung dan mengkalkulasi efek ledakan secara mendalam apalagi terhadap lingkungan sekitar” terang Humas PT Vitrama Properti Budiyanto, kepada wartawan, Senin (9/7/2018).


Menyikapi adanya keluhan sejumlah masyarakat terkait aktivitas peledakan yang dilakukan perusahaan, Budi manyatakan selama ini pihaknya sudah melakukan pendataan mengenai hal tersebut.


“Kita sudah melakukan pendataan terkait keluhan yang menyatakan adanya kerusakan sejumlah rumah milik warga akibat dari kegiatan peledakkan. Namun perusahaan juga mempunyai prosedur dalam penanganannya, seperti hal teknis yang menyatakan kerusakkan akibat dari peledakkan yang kita lakukan tentu bukan dari kita, tapi kita melibatkan unsur teknisnya dalam hal ini dinas atau instansi terkait.”jelas Budi.

"Bahasa kerusakan sebagai akibat telah menjadi komoditi perbincangan kepentingan sejak zaman dahulu kala, karena lebih menarik perhatian dari pada bahasa pembangunan dan realisasi kerja. Perusahaan telah menyanggupi untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi apabila telah sesuai dengan penilaian akademis dan tinjauan tehnis oleh pihak netral dan nonkomersil.  Keadilan sosial sebagai pertimbangan dan tentunya peraturan dan pengawasan serta arahan oleh Dinas atau instansi terkait” kata Budi.(*)

Penulis: Hendra
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help