Kisah Winda dan Temannya Bangun TPA Air Mawar dari Kardus dan Triplek

Perjuangan Winda dan dua temannya dalam memberikan ilmu agama, terbilang tidaklah mudah.

Kisah Winda dan Temannya Bangun TPA Air Mawar dari Kardus dan Triplek
Bangka Pos / Idandi Meika Jovanka
Siswa TPA Air Mawar foto bersama Editor In Chief Bangka Pos Group, Syarief Dayan, Kamis (26/7/2018) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Sore itu, sekitar pukul 14:30 Pimpinan Redaksi Bangka Pos Grup Syarief Dayan bersama Editor Bangka Pos Alza Munzi bertandang ke TPA Air Mawar.

Kehadiran kru Bangka Pos mendapat sambutan hangat dari puluhan anak-anak. Tidak hanya memberikan bantuan, redaksi Bangka Pos pun sempat berbagi cerita bersama guru ngaji pengampuh di TPA itu, Kamis (26/7/2018).

Berbekal dari kepedulian  untuk lebih menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak kurang mampu di lingkungan sekitarnya, Winda  seorang guru mengaji di Kelurahan Air Mawar membangun Taman Pendidikan Alquran (TPA).

Perjuangan Winda dan dua temannya dalam memberikan ilmu agama, terbilang tidaklah mudah. Bahkan mereka sempat membangun TPA alakadarnya terbuat  dari bahan kardus dan triplek berkas.

Beruntung sekarang bangunan TPA mereka  berukuran 4x4 meter lebih kokoh terbuat dari beton,  setelah beberapa tahun pasca pemberitaan di Bangka Pos, sejumlah donatur datang membantu membangun kelas lebih layak.

Dikatakan Winda keberadaan TPA di Air Mawar ini muncul karena melihat banyaknya anak putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu. dari situlah muncul ide membangun TPA.   

Seiring berjalannya waktu, kesadaran terhadap pentingnya nilai agama pada anak-anak semakin baik. Semula, siswa TPA berjumlah 10 orang bertambah menjadi 34 orang.

Sehingga, fasilitas dan luas kelas tidak lagi  memadai untuk keberlangsungan proses belajar mengajar.

Mengampuh 34 murid, TPA Air Mawar hanya memiliki 1 meja untuk siswa mengaji. Sebuah kipas angin tak bertutup menjadi penyejuk bagi para 34 siswa dan tiga guru mengaji.

Selain itu, papan tulis pun tidak menghiasi dinding ruang kelas dan lemari untuk menaruh Iqro dan Al-Quran pun tidak tersedia.

“Kami sempat mencari bantuan kepada donatur, seperti karpet dan lainnya. Terus terang, kami sangat membutuhkan bantuan dari orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungan pendidikan agama anak usia dini. Kami terbuka menerima bantuan berupa barang,” ungkap Winda

Ia menambahkan aktivitas TPA rutin setiap Senin sampai Kamis ini sudah mendapatkan Surat Keterangan TPA dari Departement Agama. Menariknya, 19 anak didiknya dapat mengikuti ujian Munakosah pada tahun 2019 mendatang.

Saat ditanya perihal honor mengajar, Winda mengungkapkan dirinya bersama dua rekannya bekerja ikhlas dan mengabdi untuk membangun akhlak anak-anak di lingkungannya lebih baik lagi. Iapun mengaku tidak menerima gaji atau upah.(*)

Penulis: Idandi Meika Jovanka
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved