Panen Sawit Over Kapasitas, Pabrik Akui Para Petani Harus Antri

Sekarang sistemnya harus antri dulu, dikarenakan adanya over kapasitas di pabrik, jadi buah dari petani

Panen Sawit Over Kapasitas, Pabrik Akui Para Petani Harus Antri
Bangkapos/Putrie Agusti Saleha
Suasana rapat koordinasi di ruang rapat disperindag provinsi babel 

 Laporan Wartawan Bangka Pos, Putrie Agusti Saleha

BANGKAPOS.COM, BANGKA-Banyaknya keluhan masyarakat yang diterima oleh pemerintah provinsi terkait adanya pabrik sawit yang tidak menerima hasil panen dari petani swadaya, bertolak belakang dengan jawaban yang disampaikan oleh para perwakilan pabrik sawit di Bangka.

Dalam rapat koordinasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian Provinsi Bangka Belitung dan para pengelola pabrik CPO (Crude Palm Oli), disampaikan bahwa para hasil panen para petani swadaya tersebut harus antri terlebih dahulu sebelum diolah.

"Sekarang sistemnya harus antri dulu, dikarenakan adanya over kapasitas di pabrik, jadi buah dari petani antri selama 2 hingga 3 hari sebelum diolah, tapi kadang dalam kurun waktu tersebut buah sudah ada yang dalam kondisi tidak baik lagi, maka kami kembalikan," ungkap David selaku Mill Manager PT. BSSP Simpang Rimba di ruang rapat Disperindag Provinsi Babel, selasa (31/7/2018). 

Jamaludin sebagai perwakilan dari Dinas Pertanian Provinsi Bangka Belitung pun mengatakan hal yang sama.

"Aturan dari Kementerian Pertanian sendiri batas buah segar itu hanya 24 jam untuk segera diolah. Namun apabila sudah melewati itu ibaratnya buahnya sudah tidak segar lagi dan kadar asamnya meningkat," jelasnya.

Diakui oleh Wahidin selaku account executive PT. GSBL Mentok, Bangka Barat bahwa pada tahun-tahun sebelumnya hal ini pernah terjadi tapi dengan alasan mesin di pabrik rusak.

"Tahun-tahun sebelumnya terjadi seperti ini dikarenakan pabriknya mengalami kerusakan tapi sekarang pabriknya bekerja semua dan kemungkinan besar dikarenakan buah yang banyak, kami pun mengolah buah sawit yang ada selama 24 jam, dan hari minggu pun kami beroperasi," ujar Wahidin.

Disisi lain, Jamaludin menambahkan bahwa banyaknya jumlah buah yang dipanen pada musim panen tahun ini dikarenakan musim panen yang datang lebih awal.

"Biasanya musim panen itu baru dimulai pada bulan Agustus hingga puncaknya pada oktober. Tapi tahun ini bulan ini sudah banyak. Alasan lainnya juga dikarenakan banyaknya petani swadaya yang tidak terdata, karena swadaya tidak terlacak dinas pertanian dan tidak melapor, kita tidak bisa menghitung kapasitasnya karena mreka menanam terus," ucapnya.

Selanjutnya untuk harga buah sawit sendiri terdapat perbedaan antara petani yang sudah menjadi mitra pabrik dan petani swadaya.

Untuk petani yang sudah menjadi mitra pabrik perkilogram dikenai harga Rp. 1.200,00.

Namun bagi petani swadaya harga perkilogram sawit dihargai Rp. 600,00 hingga Rp. 800,00. (*)

Penulis: Putrie Agusti Saleha
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved