Anggaran JKN Banyak Terserap untuk Biayai Penyakit Katastropik, Dinkes Gelar Advokasi Germas 2018

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka melaksanakan Advokasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)

Anggaran JKN Banyak Terserap untuk Biayai Penyakit Katastropik, Dinkes Gelar Advokasi Germas 2018
nurhayati/bangkapos.com
Kegiatan Advokasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) tahun 2018 yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Kamis (2/7/2018) di Ruang Pertemuan Hotel Manunggal Sungailiat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM -- Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka melaksanakan Advokasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) tahun 2018, Kamis (2/7/2018) di Ruang Pertemuan Hotel Manunggal Sungailiat.

Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Zulkarnain Idrus mengingatkan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah kesehatan Triple Burden. Adanya penyakit infeksi meningkatnya penyakit tidak menular dan penyakit yang seharusnya sudah teratasi sehingga muncul kembali.

Pada era 1990 an penyakit menular seperti ISPA, Tuberkulosis dan Diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Namun perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (Transisi Epidemilogi).

Tahun 2015 penyakit tidak menular seperti stroke penyakit jantung koroner kanker dan diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.
"Meningkatnya kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular seperti stroke, jantung kanker, diabetes menjadi penyebab terbesar kematian dalam ke cacatan," ungkap Zulkarnain.

Diakuinya di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik yaitu penyakit jantung koroner, gagal ginjal kronik, kanker, stroke dan diabetes.

Selain itu pelayanan kesehatan peserta JKN juga didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan rumah sakit dibandingkan di tingkat dasar.

"Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara," tegas Zulkarnain.

Dia menilai, meningkatnya penyakit tidak menular dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan penyakit tidak menular membutuhkan biaya yang besar. "Pada akhirnya kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi," kata Zulkarnain.

Penduduk usia produktif dengan jumlah besar yang seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan justru akan terancam apabila kesehatan terganggu oleh penyakit tidak menular dan perilaku yang tidak sehat. Untuk itulah perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih diperlukan dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman
12
Penulis: nurhayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved