Gabungan Nelayan Berkumpul di Tepi Pantai Sampur, Minta Aktivitas Tambang Ditertibkan

Kadang penambang itu kerja nya pagi atau siang, bisa sampai malam kalau hasilnya banyak. Posisi mereka yang berada ditepi itu

Gabungan Nelayan Berkumpul di Tepi Pantai Sampur,  Minta Aktivitas Tambang Ditertibkan
Bangkapos/Ira Kurniati

Laporan wartawan Bangka Pos, Ira Kurniati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Puluhan nelayan dari Air Itam, Sampur dan Batu Belubang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Nelayan Pesisir berkumpul di tepi Pantai Sampur, Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka tengah.

Para nelayan ini sempat mengeluhkan adanya aktivitas Tambang Inkonvensional di pantai setempat, yang dinilai meresahkan serta menurunkan hasil tangkapan laut mereka.

Pada pemberitaan Bangka Pos sebelumnya, forum nelayan bagan dan pesisir ini sempat mendatangi DPRD Provinsi Bangka belitung untuk melakukan audiensi.

Kali ini mereka berkumpul usai diterimanga audiensi tersebut untuk meminta ditertibkannya aktivitas tambang tersebut oleh pihak kepolisian.

Tampak pula jajaran kepolisian Polres Pangkalpinang mendatangi lokasi. Dipimpin langsung oleh Kapolres, AKBP Iman Risidiono Septana, sekaligus melihat kondisi pantai dipenuhi ratusan ponton TI Apung.

Namun pada saat itu, tidak terlihat para penambang maupun aktivitas tambang yang dilakukan di pantai tersebut.

Dikatakan oleh ketua forum nelayan bagan dan pesisir, Iwan, aktivitas tambang sudah berlangsung menahun.

Menurutnya ada sekitar 500 ponton TI Apung yang berada di pesisir pantai. Hal itu pun menganggu aktivitas nelayan untuk pulang pergi melaut.

Karena posisi ponton yang menghalangi jalannya perahu nelayan. Juga kondisi pantai akibat penambangan yang menyebabkan lumpur, sehingga nelayan harus menaiki semacam perahu berbentuk kotak yang ditarik menggunakan mesin dompeng dari pesisir ke tepi pantai tiap kali nelayan pulang melaut.

"Kadang penambang itu kerja nya pagi atau siang, bisa sampai malam kalau hasilnya banyak. Posisi mereka yang berada ditepi itu menghalangi jalannya perahu untuk keluar masuk. Ditambah lagi kondisi lumpur yang membuat perahu harus ditarik dari batas air laut sana karena gak bisa dilewati.," tukas Iwan, Jumat (3/8/2018).

Iwan mengaku, sudah beberapa kali menyuruh penambang untuk meninggalkan kawasan tersebut. Namun sama sekali tak digubris.

Ia bersama rekan nelayan pun sudah berulang melakulan audiensi ke lurah maupun camat setempat, namun penambang yang beberapa hari tidak melakukan aktivitas, nyatanya tetap kembali beroperasi.

Dirinya berharap agar aktivitas TI Apung yang meresahkan nelayan dapat segera ditertibkan. Selain dianggap meresahkan nelayan pesisir, juga mempengaruhi hasil laut.(*)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved