Terbukti Menipu, Dedy Divonis 1 tahun 6 bulan

Dedy terdakwa kasus penipuan tahun 2015 lalu, akhirnya divonis 1 tahun 6 bulan penjara

Terbukti Menipu, Dedy Divonis 1 tahun 6 bulan
Ist
Dedy terdakwa kasus penipuan tahun 2015 lalu saat mendekam di sel tahanan Polres Basel beberapa waktu lalu

Laporan Wartawan Bangka Pos Anthoni Ramli

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dedy terdakwa kasus penipuan tahun 2015 lalu, akhirnya divonis 1 tahun 6 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Kabupaten Bangka belum lama ini.

Vonis ini lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, Martyn Luther yang menuntut terdakwa Dedy selama 3 tahun penjara.

Ketua majelis hakim Sarah Luis menyatakan Dedy warga Toboali Bangka Selatan ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penipuan yang dilakukan secara berlanjut pasal 378 KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Selatan Safrianto Zuriat Putra, melalui Kasi Intel selaku Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Kejari Basel, M Fuady membenarkan putusan tersebut.

" Iya sudah putusan, JPU-nya Marthyn Luther. jawab Fuady kepada wartawan Minggu (4/8/2018).

Dilansir sebelumnya, Dedy diciduk Satreskrim Polres Bangka Selatan terkait kasus penipuan terhadap Wendy warga Toboali. Penipuan tersebut terjadi pada tahun 2015 lalu.

Namun kaus penipuan tersebut baru dilaporkan korban ke Polres Bangka Selatan tanggal 26 September 2017.

Sementara pelaku berhasil ditangkap pada Sabtu (3/3/2018) sekitar pukul 06.30 Wib dirumahnya pelaku di Jalan Tanjung Duren Selatan 4 Nomor 1A Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat.

Adapun kronologis kejadian bermula Kamis (10/9/2015) pukul 14.31 Wib di kantor Bank Mandiri Toboali, Bangka Selatan Dedy menelpon korban, mengajak untuk ikut investasi proyek pembangunan jembatan.

Pelaku kemudian meminta korban untuk mengirim uang sebesar Rp 400 juta dengan perjanjian akan dikembalikan setelah 3 bulan dan setiap bulannya akan diberikan keuntungan sebanyak 30 persen dari modal.

" Setelah itu korban juga diminta mengirim uang lagi untuk proyek lainnya, yaitu proyek kedua sebesar Rp 350 juta dan proyek ketiga sebesar Rp 913 juta dan proyek keempat sebesar Rp 1,360 miliar. Pelaku membayar korban dengan menggunakan cek sebanyak 3 kali. Tetapi saat akan dicairkan oleh korban, ternyata ketiga lembar cek tersebut tidak ada dananya alias kosong. Akibat kejadian itu Korban mengalami kerugian sebesar Rp 3,232 miliar," ujar Erlicshon(*)

Penulis: Antoni Ramli
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved