Jejak Sejarah Peran Pangkalpinang dan Muntok pada Awal Kemerdekaan RI

Pangkalpinang, dan Pulau Bangka memiliki jejak sejarah tersendiri di era awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Jejak Sejarah Peran Pangkalpinang dan Muntok pada Awal Kemerdekaan RI
BANGKA POS/DEDY QURNIAWAN
Sidang paripurna istimewa dengan agenda mendengarkan pidato kenegaraan presiden RI pada peringatan Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan RI, Kamis (16/8/2018) di ruang paripurna Gedung DPRD Pangkalpinang siang.‎ 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM  - ‎Pangkalpinang, dan Pulau Bangka memiliki jejak sejarah tersendiri di era awal kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua DPRD Pangkalpinang Achmad Subari saat menyampaikan sambutan membuka rapat paripurna istimewa dengan agenda mendengarkan pidato kenegaraan presiden RI pada peringatan Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan RI, Kamis (16/8/2018) di ruang paripurna Gedung DPRD Pangkalpinang siang.

Dia mengatakan, semangat dan perwujudan kemerdekaan harus diikuti dengan persistiwa sejarah besar‎ di Pangkalpinang dan Bangka. Pada 22 desember 1948-6 Juli 1949, Bangka secara defacto adalah ibu kota Republik Indonesia.

Perundingan-perundingan antar Indonesia dengan Belanda yang dimediasi dunia melalui UNCI (United Nations Commicion for Indonesia) dilangsungkan di Bangka.

‎"Abdul Gaffar Pringgodigdo dalam buku Memoar Bung Hatta, mengatakan bahwa pada saat kami dari Muntok menuju Pangkalpinang untuk bertemu KTN, sesungguhnya saat ini ada dua pusat diplomasi politik internasional, yaitu di Washington DC dan di Bangka," ujar lelaki yang akrab disapa Acu itu.

Dalam konteks ketatatanegaraan, Subari melanjutkan, sesungguhnya Negara Republik Indonesia sudah dihapus oleh Belanda pada saat Agresi Milter Belanda II. Ketika berada di Bangka saat itu, Bung Karno mengatakan, ‎bahwa merdeka akan datang sebelum matahari terbit di bulan Januari tahun 1950.

"Artinya kondisi negara dalam keadaan darurat. Pemrintahnya pun Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan tidak jelas keberadaannya," kata Subari.

Lalu, Exile Government di Indonesia berdiplomasi dengan gigih dan melahirkan Resolusi New Delhi dan Resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengantarkan Indonesia harus kembali berunding dengan Belanda. "Trace Bangka atau kelompok pemimpin yang diasing di Bangka kemudian melakukan berbagai perundingan di Muntok dan Pangkalpinang yang lebih representatif menuju perundingan Roem-Royen. Rakyat Bangka sungguh nyata Republiken ini kata Bung Karno, dan dari Pangkalpinang, Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan," ucap Subari dalam sambutannya.

Subari kemudian melanjutkan, poros Bangka-Yogyakarta-Jakarata adalah simpul kemerdekaan. Hal ini, menurutnya, dinukilkan dengan indah oleh Bung Hatta yang pernah menulis "Kenang-kenang Menumbing, di bawah sinar gemerlap terang, kenang-kenang membawa kemenangan, Bangka , Yogyakarta, dan Jakarta, Hidup Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika".

"Persitiwa bersejarah yang terjadi di Pangkalpinang dan Bangka haruslah dijadikan monumen hidup memacu semangat kita, membangun negeri ini, dan mensejahterakan masyarakatnya," kata Subari.

Sekretaris DPRD Pangkalpinang Akhmad Elvian mengakui bahwa ia yang membuatkan sambutan yang dibacakan oleh Subari tersebut. "Itu adalah sedikit cerita bagaiman peran Bangka dalam kronik revolusi Indonesia antara tahun 1948 tahun 1949," kata Elvian seusai acara tersebut.‎ (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help