Kisah Tragis Kapal Perang Argentina General Belgrano, Tenggelam Tanpa Sempat Melawan

Kapal penjelajah Argentina ini rontok dan mencium dasar laut sebagai tumbal peperangan

Kisah Tragis Kapal Perang Argentina General Belgrano, Tenggelam Tanpa Sempat Melawan
Via intisari online
Kapal penjelajah General Belgrano 

Oleh rejim Peron kapal itu kemudian diberi nama 17 Oktober. Tetapi ketika Peron jatuh kapal tersebut diganti dengan nama lain yang mungkin dianggap lebih cocok dengan semangat nasional, Jenderal Belgrano.

Soalnya beberapa penguasa tertinggi Argentina curiga dengan nama tersebut yang kelihatannya tak mempunyai apa-apa dengan Argentina.

Nama itu dinamai 17 de Octubre.  (Sebab ia diresmikan pada tanggal yang sama dengan namanya yaitu di tanggal 17 Oktober 1951 di Philadelphia?)

Sejak tahun 1956 kapal itu tetap bernama Jendral Belgrano sampai tenggelamnya. Di  tangan pemerintah Argentina kapal ini mengalami beberapa  perbaikan.

Beberapa peralatan yang ketinggalan dibongkar, dan digantikan dengan peralatan-peralatan yang lebih mutakhir.

Malah bentuknya yang besar itu sempat mengalami las dan ketok hingga kelihatannya lebih tampan.

Pokoknya tidak malu-maluin kalau disejajarkan dengan kapal yang lebih muda.

Kapal lapis baja

Semua kapal perang memang lapis baja, namun demikian Jendral Belgrano ini memang berkelebihan. la ibaratnya seperti seorang ksatria Eropa abad Pertengahan yang mempergunakan baju zirah.

Untuk melindungi penembak meriam pada dinding baja setebal 76 sampai dengan 51 mm, untuk menara dipasang baja tebal 203 mm, untuk dek satebal 51 sampai dengan 76 mm.

Maka tak mengherankan bila kapal tersebut mempunyai bobot mati yang cukup hebat yaitu 10800 ton, sedang bobot maksimum (dengan muatan) 13645 ton.

Ukurannya 184 m kali 21 m kali 7,3 m. Ruang kapal yang sedemikian luas memang diperlukan sebabnya hampir semua peralatan dari mesin sampai dengan persenjataan belum seringkas dan sepadat kapal modern.

Barangkali itulah yang menyebabkan  mengapa kapal ini membutuhkan pelayanan 1000 orang termasuk juru masak dan kapten kapal.

Sulit memang untuk membayangkan (bagi kita yang nggak pernah tahu tentang kapal) bahwa Jendral itu mempunyai ketel uap sebanyak 8 buah, tipe Babcock and Wilcox.

Sedang mesin utamanya buatan Westinghouse yang mampu menelorkan tenaga sebesar 100.000 daya kuda. Luar biasa sekali.

Namun demikian tenaga sebesar itu cuma mampu mendorong kapal itu dalam kecepatan 52 km perjam. (Kecepatan yang cukup cepat bila  dipandang dari tahun pembuatannya).

Kecepatan jelajah santainya cuma 28 km perjam. Dengan cara itu ia bisa berlayar sejauh 7600 km.

Untuk mengimbangi kehebatan beratnya maka senjata yang ada di atas deknya cukup membuat orang geleng kepala terdiri dari meriam meriam kaliber 153 mm, 127 mm, 47 mm dan 20 mm.

Peremajaan kembali

Walau telah cukup hebat, toh pemerintah Argentina kurang puas juga.

Sejak kapal itu berada di tangannya maka si jendral mendapat penambahan lain atau bahkan bisa dikatakan diremajakan kembali dengan menambah hanggar yang bisa memuat dua buah pesawat helikopter, ditambahi dengan peluncur rudal SAM (rudal dari permukaan ke udara) jenis Seacat (diperkirakan kapal itu membawa 70 buah rudal).

Meriam-meriamnya juga ditambah dengan satu jenis FCL 33, sebuah jenis FCL 34,2 buah jenis FCL 57, 2 buah jenis FCL 63 dan sebuah meriam jenis NA-9- Dl.TDS.

Untuk perlengkapan radarnya dipasang radar pencari jenis LW dan DA Signaal.

Sayang kapal berat ini tak dilengkapi dengan peralatan sonar, hingga akhirnya ia bisa didekati oleh kapal selam Inggris  dan ditenggelamkan tanpa banyak perlawanan.(K. Tatik Wardayati)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved