Akibat Gempa, Pemerintah Butuh Waktu Dua Tahun Rekonstruksi Rumah dan Fasilitas Umum di Lombok

Pascagempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, PUPR mulai melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi rumah

Akibat Gempa, Pemerintah Butuh Waktu Dua Tahun Rekonstruksi Rumah dan Fasilitas Umum di Lombok
Kerusakan akibat gempa susulan dengan kekuatan 6,5 skala richter mengguncang Lombok, Minggu (19/8/2018) pukul 11.06 WIB. 

BANGKAPOS.COM  - Pascagempa yang terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi rumah warga dan fasilitas umum.

Pembangunan kembali rumah warga ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun dan akan menerapkan sistem rumah tahan gempa atau Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha).

Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Kementerian PUPR Danis H Sumadilaga menjelaskan konsep 'Risha' menggunakan sistem modular sehingga mudah dipasang dan lebih cepat penyelesaiannya dibandingkan konstruksi rumah konvensional.

"Biayanya juga terjangkau, mudah dipindahkan karena knockdown, tahan gempa dan dapat dimodifikasi menjadi bangunan kantor, puskesmas, rumah sakit, sekolah, dan lainnya," papar Danis, Selasa (21/8/2018).

Rumah dengan konsep Risha akan memiliki ukuran tipe 36 dengan biaya pembangunan setiap meternya Rp 1,5 juta atau senilai Rp 50 juta per rumah.

Untuk pembangunan, Kementerian PUPR akan menggandeng BUMN karya dan lebih banyak menggunakan komponen dalam negeri.

"Biaya yang dibutuhkan sekitar Rp 50 juta per unit rumah. Untuk komponen paling mahalnya yakni besi dan semen, akan dipasok oleh BUMN untuk memastikan harga pembangunannya sama. Kami pasti instruksikan untuk gunakan komponen dari dalam negeri," kata Danis.

Hingga saat ini, sudah dimulai pembangunan 20 unit Risha dan 4 Rumah Unggul Sistem Panel Instan (Ruspin) yang akan digunakan sebagai rumah petugas, mushalla dan rumah sakit yang sifatnya sementara.

Sedangkan untuk fasilitas umum, Danis mengatakan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk menyelesaikan pembangunan permanen mulai dari pasar, sekolah dari TK hingga SMA, hingga rumah sakit.

"Dari hasil identifikasi sementara sekitar 78 fasilitas publik dan 36.000 rumah mengalami rusak berat dan diperlukan waktu untuk rekonstruksi bangunan permanennya sekitar dua tahun," pungkas Danis.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved