Leisure Bangka Belitung

Ketika Arwah Bergentayangan Warga Pun Lakukan Sembahyang Rebut

Karena diyakini bahwa seluruh arwah akan turun ke bumi sejak permulaan bulan ke tujuh. Di antara

Ketika Arwah Bergentayangan Warga Pun Lakukan Sembahyang Rebut
Ist
Suasana persiapan Sembahyang Rebut di Kelenteng Altar anhakti Airsabak Kudai Utara Sungailiat Bangka, Jumat (24/8/2018). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Seluruh arwah turun ke bumi sejak permulaan bulan ke tujuh.

Diantara arwah tersebut, ada yang bergentayangan dalam keadaan terlantar, sehingga mereka sangat membutuhkan persembahan makanan. 

Hal ini diyakini oleh Warga Etnis Keturunan Tionghoa. Terkait itu pula dilakukan ritual Sembahyang Rebut, seperti yang terjadi di Kelenteng Altar Bhakti Airsabak RT 03 Lingkungan Kudai Utara Kelurahan Sinarjaya Jelutung Sungailiat Bangka.

"Tujuan dari perayaan Sembahyang Rebut diyakini  oleh warga Tionghoa Bangka pada saat tersebut pintu akhirat terbuka atau Khoi Kui Mun," kata Jerry Liem alias Ajun, Ketua RT 03, sekaligus Bendahara Kepanitiaan Perayaan Sembahyang Rebut di lingkungan ini memberi penjelasan kepada Bangka Pos Groups, Sabtu (25/8/2018) malam.

Sembahyang Rebut di RT 03 Airsabak Kudai Utara diakui Ajun, sukses dilaksanakan, Jumat (24/8/2018).

Sejumlah warga keturunan berkumpul merayakan ritual.

"Karena diyakini bahwa seluruh arwah akan turun ke bumi sejak permulaan bulan ke tujuh. Di antara arwah tersebut, ada yang bergentayangan dalam keadaan terlantar, sehingga mereka sangat membutuhkan persembahan makanan," katanya.

Arwah yang terlantar ini tidak memiliki keturunan, meninggal tidak wajar, dan meninggal dalam kurun waktu lama atau disebut generasi lanjut tidak kenal dan tidak memberi persembahan.

"Oleh karenanya kami melaksanakan Sembahyang Rebut. Agenda itu dilakukan setiap tahun," kata Ajun menyebut acara dipimpin oleh Ketua Kelenteng, Sim Djoeng Kwet.

Pada kesempatan yang sama, Ajun mengutip keterangan sesepuh Airsabak, Jong Kon Sang.

Sesepuh tersebut kata Ajun memastikan, kelenteng tempat perayaan Sembahyang Rebut ini sudah  berdiri sejak Tahun 1930-an.

"Dulunya kelenteng  hanya dari papan dan berada di bawah batang pohon kayu seru besar, yang sekarang masih ada pohon tersebut. Namun dengan seiringnya waktu, bangunan kelenteng ini sudah direnovasi dengan bantuan warga sekitar dan para donatur, dan diberi nama Kelenteng Altar Bhakti," katanya.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help