Imunisasi Meases Rubella

3 Kisah Tragis Pengidap Rubella di Bangka, Jantung Taqy Bocor, Telinganya Tak Bisa Mendengar

3 Kisah Tragis Pengidap Rubella di Bangka, Jantung Taqy Bocor, Telinganya Tak Bisa Mendengar

3 Kisah Tragis Pengidap Rubella di Bangka, Jantung Taqy Bocor, Telinganya Tak Bisa Mendengar
Bangka Pos/ Kriyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kiki (33) warga Muntok Bangka Barat tak pernah mengira buah hatinya yang kini berusia 9 bulan harus menjelani berbagai rangkaian pengobatan serius seperti operasi katarak dan bocor jantung di usianya yang masih belum genap satu tahun.

Taqy buah cintanya dengan sang istri terkena congenital rubella syndrome. Pasalnya saat hamil, istrinya tertular Rubella dari saudaranya.

"Istru saya tertular dari adik saya, adik saya tertular saat menjenguk temannya di rumah sakit. Istri saya badannya lemas, panasnya naik turun dan pusing. Setelah beberapa hari kemudian kami pergi ke dokter dua Minggu dari keluar ruam ternyata positif hamil," katanya saat workshop terkait MR di Dinas Kesehatan Provinsi, Selasa (28/8/2018).

"Kami bilang dokter pernah kena campak, kata dokter enggak apa-apa karena hasil cek nya bagus. Tiap bulan kami cek dan Hasilnya bagus tidak ada masalah di kandungan istri saya," tambahnya.

Kendati demikian, ia dan istrinya tetap tidak tenang pasalnya saat itu sedang digalakkan imunisasi MR di Pulau Jawa, dan ia terus mencari informasi sehingga nantinya tidak terkejut saat anaknya lahir dengan cacat

"Pada saat anak saya lahir bagus kondisi fisiknya, hanya saja berat badan tidak naik 2 kg sama air ketuban agak hijau kalau kata dokter itu keracunan," katanya.

Seiring perkembangan sang anak laki-lakinya, ia dan istrinya mulai curiga lantaran ada bintik putih dimata Taqy dan matanya terlihat tidak fokus dan liar.

Kiki menceritakan karena kekhawatiranya, ia membawakan Taqy ke dokter anak. Saat di ditangani dokter anak di Bangka Barat, Taqy dirujuk ke dokter spesialis mata.

"Dari spesialis mata di Bangka Barat dirujuk ke RSBT, dari RSBT kami baru tau itu katarak congiental dan harus segera dilakukan penanganan, karena kalau terlambat saraf bisa mata bisa rusak dan menyebabkan kebutaan," katanya.

Pengobatan Taqy terus berlanjut, hingga balita itu dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Kiki bersyukur saat diperiksa di rumah sakit JSE Menteng saraf mata Taqy masih bagus dan bisa dilakukan operasi.

"Sebelum operasi ada beberapa cek semua dari situ baru ketahuan jantungnya positif bocor dan telinganya enggak bisa mendengar rusak rumah siput dalam, lingkar kepalanya kecil, berat badannya susah naik," katanya.

Setelah operasi mata, pihaknya juga melakukan pemeriksaan lebih dalam untuk telinga dan ternyata juga mengalami gangguan pendengaran yang sangat berat.

"Kata dokter dia mengalami gangguan pendengaran sangat berat, hanya suara pesawat landing yang bisa didengar itupun sedikit dan dibantu alat pendengaran yang superpower," tambahnya.

Kiki mengatakan pengobatan taqy dimulai sejak Januari lalu, bahkan hingga saat ini Taqy masih terus dalam perawatan.

"Untuk biaya pengobatan dan tempat tinggal kami dicover asuransi dari perusahaan, tapi masih juga masih mengeluarkan biaya pribadi yang cukup banyak karena banyak juga yang tidak ditanggung anak saya membutuhkan suplemen, alat terapi, alat bantu, belum lagi biaya yang proses cepat karena enggak mau menunggu," katanya.

Ia berharap tidak ada lagi anak-anak lainnya yang menderita Rubella seperti putranya. Oleh karena itu dirinya mengajak semua pihak untuk mensukseskan vaksin MR.

"Kami harap kerjasama semua pihak, Kemenkes, MUI, Unicef, semuanya untuk dibantu agar imunisasi MR ini sukses agar tidak ada lagi seperti anak kami yang terlahir cacat, karena anak penderita Rubella enggak boleh lambat penanganannya kalau salah sedikit bisa bikin kematian karena komplikasi jantung," ujarnya.

Halaman
Penulis: krisyanidayati
Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help