Harga Sawit Bangka Anjlok Anggota DPR RI Sebut Ini Solusinya

Harga TBS di tingkat petani kian hari kian merosot. Jika dibiarkan, petani sawit bakal gulung tikar karena tak dapat keuntungan lagi.

Harga Sawit Bangka Anjlok Anggota DPR RI Sebut Ini Solusinya
bangkapos/ferylaskari
Kondisi kebun petani non plasma di Kabupaten Bangka. Tampak seorang pemetik buah sawit (TBS) di lokasi kebun rakyat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM -- Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani non plasma semakin terjepit. Kondisi diperburuk karena pedagang pengumpul tak mau membeli buah sawit petani karena alasan jatah pengiriman ke pabrik, dibatasi. Sejumlah pedagang pengumpul juga beralasan tak mau menanggung resiko buah busuk di penampungan, sehingga mematok harga beli TBS di petani, seenaknya.

Wawan (38), petani sawit di Dusun Tutut Desa Penyamun Kecamatan Pemali Bangka, Kamis (30/8/2018) menyebut TBS sawit mereka hanya dihargai Rp 500 hingga Rp Rp 600 perkg. Padahal TBS di kebunnya, dipetik pada tanaman menghasilkan (TM) usia produktif sekitar 10 tahun. "TBS ukuran super tapi malah dibeli pedagang Rp 500 hingga Rp 600," sesalnya.

Harga TBS di tingkat petani kian hari kian merosot. Jika dibiarkan, petani sawit bakal gulung tikar karena tak dapat keuntungan lagi.

"Seharusnya Gubernur Babel turun tangan. Sudah cukup lama harga sawit anjlok, pak gubernur segera cari solusinya," katanya.

Sementara di Kabupaten Bangka terdapat beberapa pabrik pengolahan TBS menjadi CPO. Perusahaan pembeli TBS dari tingkat pedagang pengumpul itu mematok harga bervariatif. Pabrik CPO di Kecamatan Puding Besar dan Kecamatan Bakam mematok harga beli TBS pada pedagang pengumpul, kisaran Rp 900-Rp1000 perkg.

Sedangkan pabrik CPO di Kecamatan Riausilip dan Kecamatan Belinyu kisaran lebih rendah, Rp sekitar Rp 700-Rp 800 perkg. Persoalannya, perusahan ini juga memiliki perkebunan inti dan plasma yang juga sedang panen raya. Hasil panen di kebun perusahaan juga melebihi target sehingga tak terolah di pabrik sendiri.

"Makanya kami selaku pedagang pengumpul kesulitan mau jual buah TBS ke pabrik. Jatah pengiriman (jual) TBS ke pabrik kadang hanya bisa seminggu sekali, itu pun dalam jumlah terbatas. Buah yang kami beli di petani, tak terjual sehingga busuk di penampungan. Akhirnya kami pun terpaksa patok harga beli TBS petani, harga di bawah standar," tambah seorang pedagang pembeli atau pengumpul TBS, saat dikonfirmasi terpisah oleh bangkapos.com  

Anggota DPR RI asal Babel, Rudianto Tjen dikonfirmasi bangkapos.com, Kamis (30/8/2018) memberikan solusi agar harga TBS petani dapat meningkat seperti dulu lagi.

"Akar permasalahannya karena suplai (TBS) banyak karena kebun sedang panen raya. Sedangkan pabriknya tidak dapat menampung buah (TBS) yang ada, sehingga harga sawit di permainkan," katanya.

Menurut Rudianto Tjen, seiring bertambahnya jumlah kebun petani non plasma atau petani tradisional, hendaknya diiringi penambahan jumlah pabrik pengolahan.

"Pemerintah daerah (Pemda) yang bertanggung jawab untuk kasus ini. Makanya segera ijinkan (permudahkan iijin) pabrik baru untuk didirikan di Pulau Bangka, agar berapa pun produksi TBS, bisa tertampung oleh pabrik," katanya.

Bupati Bangka Terpilih yang sedianya bakal dilantik dalam waktu dekat, Mulkan dikonfirmasi persoalan anjloknya harga sawit, Kamis (30/8/2018) mengaku belum dapat berbuat banyak.
Alasannya karena saat ini, ia belum resmi menjabat sebagai bupati karena masih menunggu pelantikan. Namun demikian kata Mulkan, persoalan itu menjadi pekerjaan rumah (PR) baginya, jika sudah dilantik nanti.

"Inilah yang menjadi PR kami," katanya.(*)

Penulis: ferylaskari
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help