Kata Ketua KIPI Babel Sakit Laras Bukan Karena Vaksin MR

Hasil investigasi terhadap Laras (9) bocah yang muncul ruam pasca imunisasi Measles Rubella bukan kejadian ikutan paska imunisasi.

Kata Ketua KIPI Babel Sakit Laras Bukan Karena Vaksin MR
Bangka Pos / Krisyanidayati
Ketua Komda KIPI Babel, Helfiani dan Kepala Dinas Kesehatan Babel Mulyono Susanto saat memastikan kondisi Laras di ruang perawatan RSUD Depati Hamzah, Jum'at (31/8/2018). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Ketua Komda Kejadian Ikutan Pasca imunisasi (KIPI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
dr Helfiani Sp.A. mengatakan hasil investigasi terhadap Laras (9) bocah yang muncul ruam pasca imunisasi Measles Rubella bukan kejadian ikutan paska imunisasi.

"Kita sudah investigasi dari kemarin, hasil pemeriksaan laboratorium sudah kami simpulkan anak ini menderita penyakit purpura Henoch-Schonlein, bukan karena imunisasi MR," kata Helfiani di RSUD Depati Hamzah, Jum'at (31/8/2018).

Ia menyebutkan purpura Henoch-Schonlein merupakan penyakit autoimun yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Hal ini juga sering terjadi pada anak-anak usia 2-11 tahun.

"Mungkin sebelum dia imunisasi virus ini sudah masuk, Virus itu bisa saja masuk pada saat anak itu, batuk, pilek atau gangguan saluran pencernaannya, dan ini bukan KIPI," katanya.

Ia menyebutkan, ciri-ciri KIPI ditandai dengan panas tinggi yang muncul pada 7-10 hari paska imunisasi. Sedangkan laras sudah mulai memberikan reaksi setelah tiga hari diimunisasi.

"Jika KIPI maka reaksi yang ditimbulkan berupa panas tinggi 7-10 hari setelah imunisasi baru ada gejala, sedangkan laras 2-3 hari sudah ada gejalanya," katanya.

Disinggung soal akankah imunisasi MR menjadi pemicu, ia menyebutkan bisa saja. Namun, ditegaskan hal ini bukan karena imunisasi.

"Bisa ini menjadi pemicu, tapi dari kasus ini bukan karena imunisasi, karena infeksi ini bisa saja masuk sebelum dia disuntik, tidak ada kaitan dengan imunisasi. Istilahnya coincedence," jelasnya.

Ia menyebutkan, saat ini kondisi Laras sudah membaik paska diberikan terapi dan penanganan untuk purpura Henoch-Schonlein.

"Kondisinya sudah membaik, nyerinya enggak ada lagi dan ruam kakinya sudah berkurang," katanya.

Helfiani menyebutkan imunisasi MR sangat aman, reaksi yang ditimbulkan akibat vaksin hanya nyeri disekitar tangan atau merah disuntik.

"Reaksinya biasanya nyeri lokal, sakit atau merah disekitar bekas suntik, paling 1-2 hari," katanya. (*)

Penulis: krisyanidayati
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help