Home »

Techno

» News

Anda Tertipu Belanja Online? Laporkan ke 2 Situs Kemenpan RB dan Kemenkominfo Ini Langsung Ditangani

Sering kali sistem belanja online dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.

Anda Tertipu Belanja Online? Laporkan ke 2 Situs Kemenpan RB dan Kemenkominfo Ini Langsung Ditangani
Kompas.com/Thinkstock/AntonioGuillem
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Belanja online memang banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan.

Itulah mengapa kebanyakan orang lebih tertarik untuk berbelanja secara online.

Walaupun memberikan banyak kemudahan, namun sering kali sistem belanja online dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan.

Karena sangat mudah sekali melakukan tindak penipuan di media online, karena tidak bertemunya penjual dan pembeli secara langsung,

Terlebih lagi tidak melihat secara langsung barang yang akan diperjualbelikan

Baca: Mama Muda Pamit Keluar Rumah, Dibuntuti Suami Ternyata Masuk Kamar Hotel Temui Pria Selingkuhan

Hal itulah yang menyebabkan penipuan online menjadi momok paling menakutkan bagi orang-orang yang hobi belanja online.

Untuk menindaklanjuti kasus penipuan online, ada beberapa metode yang bisa Anda lakukan.

Salah satunya adalah melaporkan si penipu, entah itu akunnya maupun rekening ia gunakan.

Dilansir dari Intisari, berikut 2 cara melaporkan kasus penipuan belanja online yang langsung ditangani oleh negara.

1. Lapor ke situs Lapor.go.id

Anda bisa melaporkannya melalui situs  Lapor.go.id, seperti namanya Lapor merupakan singkatan dari Layanan Aspirasi Pengaduan Online Rakyat.

Sebelum mengirim laporanmu, kamu harus registrasi terlebih dahulu dengan mengisi kolom identitasmu yang terletak di sisi kanan

Situs ini dikembangan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi bersama Kementerian Dalam Negeri.

Baca: Video Mesum Siswi SMK dan Mantan Pacar Beredar, Direkam di Kamar Hotel Daerah Bali

Dengan melaporkan ke situs ini, laporan Anda akan diverifikasi dan diteruskan kepada instansi yang berwenang untuk dapat ditindaklanjuti.

Masyarakat juga dapat mengawal penanganan setiap laporan secara transparan dan akuntabel melalui berbagai fitur yang tersedia, termasuk fitur-fitur untuk mendukung keamanan dan kenyamanan pelapor.

2. Laporkan rekening pelaku ke situs Cekrekening.id

Anda juga bisa melaporkannya ke Cekrekening.id, situs ini adalah layanan resmi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia.

Situs ini difungsikan untuk melakukan pengumpulan database rekening bank yang diduga terindikasi tindak pidana.

Baca: Video Angel Karamoy Bersama Seorang Pria Mirip Sutradara Ternama Beredar di Media Sosial

Pengumpulan dapat dilakukan oleh siapa saja yang ingin berpartisipasi dan membantu sesama pengguna transaksi elektronik demi menciptakan lingkungan e-commerce yang sehat.

Beberapa rekening yang bisa Anda laporkan kesini adalah, rekening terkait tindak pidana penipuan, investasi palsu, obat terlarang, terorisme, dan kejahatan lainnya.

Itulah dua cara yang bisa Anda tempuh jika curiga atau mengalami penipuan dalam wujud online.

Baca: 21 Anggota DPRD Kota Malang Ditahan, Sekarang Tinggal 4 Orang, Sejumlah Agenda Terancam

Diantara para pengguna internet, lansia atau para orang tua lah yang rentan untuk menjadi korban penipuan online

DIlansir dari laman chip.co.id, anggapan ini muncul merujuk pada hasil penelitian terbaru dari Kaspersky Lab dan B2B International yang menyuarakan keprihatinan mengenai keamanan beraktivitas online bagi seseorang yang telah berusia lebih dari 55 tahun.

Temuan penelitian ini, yang disampaikan dalam sebuah laporan berjudul: 'Older and wiser? A look at the threats faced by over-55s online',

Laporan ini menunjukkan bahwa kelompok usia tersebut dapat berperilaku tidak aman ketika online dan sering menjadi korban penipuan.

Temuan ini mengkhawatirkan, karena penilitian terhadap 12.546 responden dari pengguna internet di seluruh dunia, menunjukkan bahwa generasi yang lebih tua sebenarnya target yang sangat menarik bagi penjahat cyber.

Baca: Habib Usman Bocorkan Status Hubungannya dengan Kartika Putri

Ketika sedang online, kebanyakan dari mereka berbelanja, melakukan aktivitas perbankan dan berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka cintai tanpa melindungi diri sendiri secara efektif dari ancaman penjahat cyber.

Meskipun para lansia mungkin saja menginstal software keamanan pada komputer mereka, namun mereka cenderung tidak melindungi perangkat mobile atau mengubah perilaku ketika online supaya tetap aman.

Sebagai contoh, mereka menggunakan pengaturan privasi yang tinggi pada jejaring sosial namun tidak pada browsernya.

Mereka juga tidak  menggunakan fungsi keamanan dalam perangkat mereka (seperti 'Find My Device') atau VPN

Generasi yang lebih tua ini menggunakan internet untuk berbagai aspek kehidupan mereka.

Hal ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap penjahat cyber jika mereka terus beraktivitas online tanpa mengambil tindakan pencegahan.

Mereka menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan orang lain, 94% dari kelompok usia ini menggunakan e-mail secara teratur.

Baca: Ternyata Seperti Ini Luka-luka 7 Jenderal Korban Keganasan G30S PKI

Kelompok usia ini lebih dimungkinkan untuk melakukan transaksi keuangan melalui Internet, dengan 90% berbelanja dan beraktivitas perbankan secara online

Meskipun hasil penelitian ini telah dilaporkan, nyatanya hanya setengah dari kelompok usia ini (49%) yang merasa khawatir tentang kerentanan mereka ketika membeli produk secara online dan sebagian besar (86%) tidak percaya mereka adalah target bagi penjahat cyber.

Yang mengkhawatirkan, empat dari sepuluh (40%) menempatkan diri mereka pada posisi yang berisiko dengan berbagi rincian keuangan dalam domain public.

Kurangnya kecerdasan dalam berperilaku di dunia maya membuat kelompok usia ini kurang siap terhadap bahaya di dunia online.

Akibatnya, generasi ini menjadi korban penjahat cyber.

Menurut laporan itu, 20% dari pengguna internet secara keseluruhan memiliki kerabat yang lebih tua yang berhadapan dengan software berbahaya, dan 14% memiliki kerabat di kelompok usia yang sama telah tertipu dengan hadiah palsu yang menarik lewat online.

Selain itu, 13% memiliki kerabat yang telah berbagi terlalu banyak informasi pribadi secara online dan 12% memiliki kerabat  yang telah menjadi korban penipuan online, melihat konten yang tidak pantas, atau berkomunikasi dengan orang asing yang berbahaya secara online.

"Di satu sisi, temuan ini bagus untuk melihat bahwa begitu banyak responden yang berusia lebih dari 55 tahun menggunakan internet untuk berbelanja, beraktivitas perbankan dan tetap terhubung dengan orang yang mereka cintai." kata Andrei Mochola, Head of Consumer Business di Kaspersky Lab

Baca: Menag Tegaskan Keselamatan Ustaz Abdul Somad Harus Dijamin, Hidayat Nur Wahid Minta Lakukan Ini

Laporan ini menunjukkan dengan jelas bahwa generasi ini mendukung kehidupan yang terkoneksi, beserta semua peluang yang datang bersamaan dengan hal tersebut.

Di sisi lain, jelas bahwa kelompok usia ini tidak melindungi diri mereka sendiri dengan benar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, mereka bahkan tidak percaya bahwa mereka adalah target kriminal di dunia maya, bahkan mereka menempatkan diri dalam keadaan bahaya berulang kali.

"Di Kaspersky Lab, kami mendorong pengguna internet di kelompok usia ini untuk lebih sadar akan bahaya yang mereka hadapi secara online, dan bertindak lebih cerdas.

Kami juga mendorong pengguna internet di usia muda membantu saudara dan teman-teman mereka yang lebih tua untuk dapat melindungi diri dari ancaman yang sangat nyata yang ditimbulkan oleh penjahat cyber.

Menjadi waspada secara online, serta menginstal solusi keamanan yang handal dan memastikan pengaturan privasi yang tinggi pada semua perangkat yang digunakan untuk mengakses internet, akan menjamin kehidupan yang terkoneksi lebih bahagia dan sehat," pungkasnya Andrei. (Grid.ID)

Editor: fitriadi
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help