Kaka Slank Kampanye Penyelamatan Pulau Bangka Likupang Timur dari Tambang Bijih Besi

Kaka Slank Kampanye Penyelamatan Pulau Bangka Likupang Timur dari Tambang Bijih Besi

Kaka Slank Kampanye Penyelamatan Pulau Bangka Likupang Timur dari Tambang Bijih Besi
ISTIMEWA
Kaka Slank saat memetik gitar dan bernyanyi bersama warga Pulau Bangka pada Agustus 2017 silam (kiri), dan saat tiga personel Slank, Kaka, Bimbim dan Ivan tiba di Kota Manado, Senin (03/09/2018) siang. 

Menyusuri Pulau Bangka Bersama Kaka Slank

Sebelumnya, pada Selasa (12/07/2017), Pulau Bangka, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara menjadi tujuan perjalanan Kaka Slank.

Vokalis Band Slank itu ingin melihat kehidupan warga Pulau Bangka pascaputusan penghentian operasi tambang bijih besi, sekaligus menikmati keindahannya.

Wartawan TribunManado.co.id berkesempatan ikut dalam perjalanan menuju satu di antara Pulau yang perairannya memiliki spot diving terbaik di dunia.

Perjalanan menuju Pulau Bangka melintas jalan darat menuju Likupang ditempuh dalam waktu satu jam setengah dari pusat kota Manado.

Start poin diawali dari Paradise Ocean Park, sebuah taman bermain air yang belakangan hits sebagai tempat wisata baru di Sulut.

Sebuah kapal kayu sudah menambat, menanti kedatangan rombongan.

Kapal dibuat khusus untuk para divers properti Mimpi Indah Resort, sebuah resort di Pulau Bangka.

Dari pesisir daratan Likupang, Pulau Bangka terlihat jelas.

Lokasi kountur Pulau berbukit-bukit dengan pesisir pantai pasir putih.

Cuaca pagi itu cukup bersahabat, cerah lautnya pun tenang.

Waktu tempuh perjalanan laut relatif singkat, kurang lebih 30 menit.

Terik matahari yang harusnya menyengat kulit, terabaikan begitu memandang hamparan laut biru begitu memanjakan mata.

Warna biru pekat air laut menandakan perairan.

Makin ke tepian perairan menjadi makin jernih, nampak karang-karang menghiasi dasarnya bak taman di bawah laut, surga alam yang siap dinikmati keindahannya.

Bahkan tak sulit menemukan ikan berenang di perairan.

Masih terpaku kala menikmati keindahan Pulau Bangka, Tak terasa, kapal sudah tiba di tujuan.

Sebuah dermaga kayu menjadi tempat perhentian pertama di Pulau Bangka.

Belum menambat riuh teriakan sambutan terdengar dari dermaga.

Tiga orang bocah perempuan nampak semangat menanti kedatangan rombongan.

Mereka yakni Ocean, Sky, dan River. Para bocah adalah anak Ulva Takke, pecinta lingkungan pendiri Yayasan Suara Pulau.

Ulfa bersama suami Owen Tap, mengelola Mimpi Indah Resort, tempat Kaka Slank dan rombongan akan tinggal semalam, sebelum mengunjungi Desa Kahuku, lokasi area pertambangan bijih besi.

Mimpi Indah Resort menempati areal pesisir pantai berpasir putih di sebuah teluk terletak di tenggara Pulau. 

Lokasinya hanya 1 kilometer dari Desa Livens, satu dari empat desa di Pulau Bangka.

Resort berkonsep natural.

Ada lima unit pondok penginapan, dan sebuah kafe.

Bangunan dibangun dari bambu dan pitate, semacam dinding bambu anyam beratapkan daun katu.

Sangat benuansa natural.

Pengelola menanamkan konsep rumah khas Toraja, daerah asal Ulva is Pemilik.

Areal itu berselimut hutan, bangunan bambu dikeliling pohon-pohon besar rindang.

Serasa berada di hutan, sangat alami. Meski begitu, areal itu bersih dari sampah, termasuk sampah dedaunan.

Belum puas menikmati pesisir pasir putih bersanding hutan alami, Kaka Slank dan rombongan ingin secepatnya menjajal keindahan bawah laut Pulau Bangka.

Resort memang khusus melayani para penyelam.

Lokasi penyelaman pun tak jauh dari pesisir pantai.

Dua lokasi penyelaman di sambangi.

Spot Batu tiga menjadi spot pertama yang dieksplore.

Sebuah Jejeran tiga buah pulau batu di perairan yang menonjol ke permukaan.

Di sinilah keunikan surga penyelaman Pulau Bangka.

Kontur area bawah lautnya unik, menurut Ulva Takke, pemandu selam Bangka, kountur bawah lautnya berupa dinding atau wall, mirip seperti spot Bunaken.

Sejam di bawah laut, para penyelam naik ke permukaan. Beristirahat sejenak, Kaka Slank Cs langsung melumat spot berikutnya tak jauh dari Batu Tiga.

Spot diberi nama Areng Kambing.

Waktu berlalu cepat, saking asyiknya menikmati keindahan alam Pulau Bangka, tak terasa sudah sore menandai akhir petualangan singkat hari itu.

Bencana Ekologi Ancam Pulau Bangka

Direktur Walhi Sulut Edo Rahman mengatakan bencana ekologi ancam Pulau Bangka.

"Adanya undang-undang perlindungan pulau-pulau kecil dan pesisir dari berbagai kegiatan pertambangan ternyata tidak menjamin melindungi keberadaan berbagai pulau kecil dimasuki dan dijamah kepentingan investasi pertambangan. Tak terkecuali keberadaan Pulau Bangka yang termasuk kategori pulau kecil," ujarnya, Kamis (27/10/2011).

Pulau Bangka memiliki luas 4.800 hektar, masuk dalam kategori pulau kecil.

Sehingga secara aturan otomatis dilindungi keberadaannya dari berbagai kegiatan pertambangan.

Akan tetapi, menurut Edo fakta yang ada sungguh bertolak belakang.

Keputusan Drs Sompie Singal saat menjabat Bupati Minahasa Utara, mengeluarkan rekomendasi eksplorasi kepada investor Cina dengan membawa nama PT Mikro Metal Perdana mulai mengganggu rasa aman sekitar 2.649 jiwa penduduk asli pulau Bangka yang tersebar di tiga desa yaitu Libas, Kahuku, dan Lihunu.

Mengeluarkan izin eksplorasi dan penelitian ilmiah bagi perusahaan tambang ini makin membuat waswas sebagian besar warga nelayan yang ada di pulau Bangka.

Bahkan oleh Wahana Lingkungan Hidup Sulawesi Utara sudah bisa memprediksi ancaman bencana ekologi yang bisa mengancam keberadaan pulau Bangka apabila eksploitasi pasir besi sungguh dilakukan di pulau ini.

Akhirnya rekomendasi eksplorasi dikeluarkan kala itu dengan luas penelitian mencapai 2000 hektar, atau setara dengan setengah dari luas pulau Bangka.

Fakta yang ditemukan di lapangan saat itu, menurut Direktur Walhi Sulut Edo Rahman ternyata rekomendasi eksplorasi yang diberikan kepada PT MPP ternyata dimanfaatkan untuk melakukan penggalian tanah dengan ukuran 3x10 meter sebanyak tiga lubang di pulau Bangka, bahkan alat pengeboran mereka sudah tiba kala itu.

"Pihak perusahaan juga sudah memasang lampu besar sejenis lampu mercury di puncak bukit pulau Bangka. Tentu itu adalah lampu penanda bagi kapal-kapal mereka untuk sandar dan mengangkut pasir besi," ujar Edo.

Menurut Edo, kenyataan yang terjadi untuk daerah atau pulau yang dijadikan pusat penambangan, perusahaan yang diberi ijin melakukan praktek pertambangan pasir besi mempunyai kewenangan mengeruk di areal konsesi yang diberikan, bukan hanya di darat tetapi mereka juga bisa mengeruk pesisir pantai hingga ke laut sejauh 200 meter, jika terdapat kandungan pasir besi.

Tentu saja bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika daratan dan lautan sekitar pulau dikeruk sedemikian rupa untuk mengambil pasir besinya.

Kondisi seperti ini tentu saja dikhawatirkan mengancam keberadaan pulau dan kehidupan yang ada di atasnya.

Apalagi sebagian besar warga pulau Bangka memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, tentu saja ancaman kehilangan mata pencaharian seolah menjadi mimpi buruk yang terus akan membayangi.

Keberadaan pulau Bangka yang merupakan salah satu potensi penting bagi Sulut dipastikan dikalahkan oleh kepentingan investasi.

Bukan hanya potensi perikanan yang melimpah, tetapi pulau ini juga diandalkan dari sisi tujuan wisata.

Apalagi fungsinya sebagai pelindung dan penyangga bagi taman laut Bunaken tentu diharapkan tetap dijaga utuh.

Berbagai macam penelitiaan bawah laut yang dilakukaan di sekitar perairan pulau Bangka makin melengkapi kompleksitas potensi ditambah kehidupan sosial budaya masyarakatnya yang ramah dan menggantungkaan hidup sebagai nelayan tradisional, sungguh menjadi kekayaan yang patut dijaga selalu.

Apakah lebih berpihak pada keuntungan sementara dari investasi pertambangan ataukah tetap menjaga kelestarian alam dan keseimbangan hidup yang secara turun-temurun terus dijaga dan menjadi nadi bagi kelangsungan hidup seluruh warga nelayan di pulau Bangka.(*)

Editor: teddymalaka
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help