Rupiah Diprediksi Sentuh Rp 15 Ribu, ini Kebijakan yang Bakal Dilakukan Sri Mulyani

“Betul bahwa rupiah ini tergantung juga dengan sentimen pasar, tetapi hitungan fundamentalnya harusnya tidak selemah ini,”

Rupiah Diprediksi Sentuh Rp 15 Ribu, ini Kebijakan yang Bakal Dilakukan Sri Mulyani
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

Ekonom Maybank Indonesia Juniman berpendapat, episentrum sentimen yang mempengaruhi pelemahan rupiah saat ini cukup banyak dan berpindah. Dari eksternal, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserves pada bulan ini dan sentimen perang dagang antara AS dan China masih belum reda di tengah pasar.

"Sekarang tambah lagi tren pelemahan mata uang negara berkembang seperti Tukri, Venezuela, Argentina, dan baru-baru ini mata uang rial Iran," kata Juniman, Selasa (4/9).

Kendati demikian, sentimen dari dalam negeri belum juga mampu menopang mata uang rupiah. Menurut Juniman, kebijakan yang pemerintah keluarkan sejauh ini dianggap investor belum cukup efektif untuk menstabilkan rupiah.

Seperti yang diketahui, salah satu faktor tersbesar pelemahan rupiah adalah defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) yang terus melebar. "Rupiah terus melemah karena sepertinya investor melihat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah belum mampu mempersempit CAD," kata Juniman.

4. Kebijakan Tarif pph Impor Dipertanyakan

Juniman bilang, kebijakan pemerintah sejauh ini bersifat jangka menengah hingga panjang. Misalnya, kebijakan penggunaan B20, kebijakan menambah ekspor, dan kebijakan menaikkan tarif pph impor untuk barang konsumsi yang akan diumumkan daftarnya besok, Rabu (5/9).

"Kebijakan tarif pph impor terhadap barang konsumsi ini dipertanyakan, apakah efektif menurunkan tingkat impor? Soalnya, impor barang konsumsi hanya menyumbang sekitar 9% dari total impor. Yang paling besar adalah impor bahan baku 60% dan 29% impor barang modal," tutur Juniman.

Menurut Juniman, investor tampaknya akan lebih yakin jika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang realistis dan jangka pendek untuk mengurangi CAD. Ia menilai, impor pemerintah sebaiknya diutamakan seperti mengurangi impor bahan infrastruktur, impor pangan, dan impor bahan bakar minyak.

Memang, menekan impor barang pemerintah akan sama dengan menunda proyek infrastruktur seperti pembangunan tenaga pembangkit listrik dan proyek konektivitas.

"Untuk menekan impor BBM, pemerintah mungkin sebaiknya menaikkan harga BBM, entah itu secara gradual atau one-shot," kata Juniman.

Halaman
1234
Penulis: teddymalaka
Editor: asmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved