Rupiah Diprediksi Sentuh Rp 15 Ribu, ini Kebijakan yang Bakal Dilakukan Sri Mulyani

“Betul bahwa rupiah ini tergantung juga dengan sentimen pasar, tetapi hitungan fundamentalnya harusnya tidak selemah ini,”

Rupiah Diprediksi Sentuh Rp 15 Ribu, ini Kebijakan yang Bakal Dilakukan Sri Mulyani
Tribunnews/JEPRIMA
ilustrasi 

Melihat kondisi sentimen eksternal dan domestik saat ini, Juniman memproyeksi rupiah masih akan berada dalam tren pelemahan. Volatilitas pasar yang tinggi juga membuat rentang pergerakan rupiah cukup lebar. "Level resisten baru masih akan terus terbentuk. Sekarang, tergantung pada respons pemerintah selanjutnya," pungkasnya.

5. Sri Mulyani Akan keluarkan PMK PPh Impor

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan mengeluarkan revisi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34 Tahun 2017 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Barang Impor, esok hari.

Dalam revisi beleid tersebut, pemerintah mengenakan tarif baru Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 Impor pada 900 komoditas barang impor konsumsi.

Hal ini untuk merespon nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang anjlok. Langkah ini guna memperkecil current account deficit (CAD).

"Langkah yang dilakukan pemerintah ini untuk menangani permasalahan yang berasal dari neracaa pembayaran. Kami lakukan dengan lamgkah-langkah yang besok pagi akan lakukan penerbitan PMK dalam rangka atur impor barang konsumsi," ujar Sri Mulyani di DPR RI, Jakarta, Selasa (4/9).

Ia menyebutkan, peningkatan laju impor barang konsumsi hingga Agustus lalu sebesar 50% sudah mengkhawatirkan bagi nilai tukar.

"Jadi kami akan mengeluarkan PMK besok pagi yang detailkan sekitar 900 HS code dari barang-barang komoditas impor barang konsumsi, terutama yang nilai tambah dalam negeri tidak besar tapi menggerus devisa kita," kata dia.

6. Wapres Imbau Tak Impor Ferrari, Lamborghini Bahkan Tas Hermes

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta masyarakat untuk membantu pemerintah mengurangi impor. Hal itu penting untuk mengurangi defisit neraca perdagangan.

Salah satu caranya, yakni dengan tidak mengimpor barang-barang mewah. 

"Mungkin jumlahnya tidak besar tetapi perlu untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa suasana ini, suasana berhemat," ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (5/9). 

"Suasana kita tidak perlu impor barang mewah, enggak usah Ferrari, Lamborghini masuk, enggak usah mobil-mobil besar, yang mewah-mewah. Tak usah parfum-parfum mahal atau tas-tas Hermes," sambungnya. 

Pemerintah, tutur Kalla, akan berupaya meningkatkan ekspor sumber daya alam dan coba menurunkan impor yang tidak perlu. 

Di sisi lain, peningkatan lokal konten juga perlu ditingkatkan sehingga industri tak banyak mengimpor barang. 

Selain itu, pemerintah juga meminta agar ekspor dilakukan secara efesien. Sebab, uang hasil ekspor banyak disimpan di luar negeri. 

Padahal, kalau dana itu disimpan di bank di dalam negeri atau Bank Indonesia, maka dana itu akan menambah ketersediaan dana di dalam negeri. 

"Ya, selama itu disimpan di bank nasional atau di BI enggak apa-apa cadangan kita baik. Itu akan memperkuat rupiah kalau cadangan baik," kata Kalla. (kontan.co.id)

Berita ini dirangkum dari artikel yang terbit di kontan berjudul "BI: Bila melihat fundamentalnya, rupiah seharusnya tidak selemah ini",  Tembus Rp 14.900/dollar AS, rupiah butuh suntikan tenaga dari kebijakan fiskalRupiah anjlok, pemerintah keluarkan aturan pajak barang impor besok dan Rupiah loyo, Wapres: Tak usah impor Ferrari, Lamborghini, parfum mahal dan tas Hermes.


Penulis: teddymalaka
Editor: asmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved