Rupiah Melemah, Ekonom dan Mantan Menteri Sebut Ada yang Tak Beres Pada Perekonomian Indonesia

Melemahnya rupiah dianggap sebagai tanda bahwa ada yang tak beres dengan perekonomian Indonesia.

Rupiah Melemah, Ekonom dan Mantan Menteri Sebut Ada yang Tak Beres Pada Perekonomian Indonesia
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Tampilan uang NKRI baru di Gedung Bank Indonesia, Senin (19/12/2016). Bank Indonesia meluncurkan uang NKRI baru dengan menampilkan 12 pahlawan nasional, Adapun uang desain baru yang diluncurkan hari ini mencakup tujuh pecahan uang rupiah kertas dan empat pecahan uang rupiah logam. 

BANGKAPOS.COM - Melemahnya rupiah hingga menyentuh level Rp 15.000 per dolarnya dianggap sebagai tanda bahwa ada yang tak beres dengan perekonomian Indonesia belakangan ini.

Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Enny Sri Hartati ada faktor dari dalam negeri yang menyebabkan terjadinya kondisi seperti sekarang.

Sehingga Pemerintah diharapkan tak hanya semata-mata menyalahkan faktor-faktor eksternal.

"Potensi untuk terjadi krisis seperti tahun 1997 dan 1998, memang tidak semua sama dengan kondisi saat itu. Tapi, yang harus diperhatikan, kalau Pak Darmin (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian) dan Bu Menteri Keuangan menyampaikan ini masih aman, juga tidak betul," kata Enny Sri Hartati, dalam tayangan Sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Selasa (4/9/2018).

Baca: Kurs Rupiah Terpuruk, Sejumlah Tokoh Buka Suara, Sebut Angka Berbahaya Hingga Ucapkan Selamat

Baca: Cadangan Devisa Hingga Angka Kemiskinan, Ini Beda Melemahnya Nilai Rupiah 1998 dan 2018

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, menurut Enny, berbagai sektor perekonomian Indonesia atau sektor keuangan secara keseluruhan, masih relatif sehat.

Namun, ada indikator lain yang memerlukan penanganan cepat pemerintah agar dampak buruk bisa lebih diredam, salah satunya cadangan devisa.

"Salah satu ukurannya dari cadangan devisa. Kalau semua orang menarik utangnya hari ini, cadangan devisa kita tidak cukup. Rasio cadangan devisa terhadap utang kita 72 persen, di bawah 100 persen," papar Enny.

Pada kesempatan itu, mantan Menteri Keuangan Rizal Ramli menyampaikan status perekonomian Indonesia lampu kuning atau harus berhati-hati.

Baca: Kasus Bintara Tewas Dianiaya Atasan, Pelaku Cemburu Istrinya Makan Siang Bersama Korban

"Ini bukan hal yang baru, satu tahun yang lalu, akhir tahun 2017. Kami sudah mengatakan hati-hati ekonomi Indonesia sudah lampu kuning," ujar Rizal Ramli.

Dasar pernyataan tersebut dari sejumlah indikator ekonomi makro yang negatif.

Indikator yang dimaksud adalah defisit neraca transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, keseimbangan primer yang masih negatif, hingga defisit APBN.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help