Kehadiran LPDB Masih Dibutuhkan Koperasi

LPDB diharapkan bisa mempercepat proses pencarian pinjaman bagi koperasi yang telah memiliki catatan baik di mata LPDB.

Kehadiran LPDB Masih Dibutuhkan Koperasi
Istimewa

BANGKAPOS.COM, BANDUNG - Mendengar nama Pasar Cicadas, bayangan kita akan langsung tertuju aksi sangar para preman dan sikap intimidatif yang dilakukan rentenir.

Bayangan kelam itu tidak terlalu berlebihan, karena Pasar Cicadas yang berada di Jalan Cikutra, Cicadas, Bandung, memang identik dengan ulah para preman dan rentenir.

Sebagian besar pedagang juga mengakui, kedua "sampah masyarakat" itu sudah mengakar dan menjadi bagian dari aliran darah yang menggerakkan jalannya roda perekonomian di pasar itu.

"Betul. Di sini memang gudangnya preman dan rentenir. Sampai sekarang. Tapi mereka tidak lagi jahat, mereka sudah pensiun," kata Bendahara Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sejahtera Mandiri, Sudarman (73), yang didampingi Sekretaris Tati Mulyati saat ditemui di Pasar Cicadas, Rabu (1/8).

Justru dengan adanya preman dan rentenir ini, diakui Sudarman, akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya koperasi yang dikelolanya.

"Banyak pertentangan dan persinggungan di sini. Tapi itu hanya bulan-bulan pertama pembentukan koperasi di tahun 2004 lalu," katanya.

Dengan gaya preman dan gaya rentenir juga, Sudarman mengumpulkan aset lebih dari Rp 4 miliar.

Sudarman mengakui, tanpa adanya pinjaman berbunga rendah dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (LPDB-KUMKM), pihaknya akan kesulitan mencari talangan dana.

Apalagi saat menjelang ramadhan. Karena biasanya pedagang mengambil uang tabungan dan meminjam lebih banyak dari biasanya untuk kebutuhan modal usaha.

Pada pinjaman pertama, KSP Sejahtera Mandiri mendapat Rp 125 juta. Pinjaman itu berhasil dikembalikan sesuai waktu yang ditentukan.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help