Hidup Melajang 50 Persen Berisiko Kematian Daripada Obesitas, Ini Hasil Penelitiannya

Para ahli telah menyimpulkan bahwa kesepian bisa lebih mematikan daripada obesitas.

Hidup Melajang 50 Persen Berisiko Kematian Daripada Obesitas, Ini Hasil Penelitiannya
Shutterstock
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM  -- Tak seorang pun ingin menjalani hidupnya dalam kesepian, bahkan seorang introvert pun menginginkan keberadaan seseorang.

Namun, di dunia dengan 7,6 miliar orang ini, ada banyak orang yang menjalani kehidupan sepi bahkan memilih untuk tidak menikah.

Para ahli telah menyimpulkan bahwa kesepian bisa lebih mematikan daripada obesitas.

Lebih jauh, kesepian harus dianggap sebagai risiko kesehatan masyarakat.

Peneliti AS menganalisis 218 penelitian yang berkaitan dengan efek kesehatan karena kesepian dan sampai pada kesimpulan yang mengejutkan.

Isolasi sosial meningkatkan kematian seseorang hingga 50% dibandingkan obesitas.

Penelitian yang diterbitkan di New York Post memeriksa lebih dari 200 penelitian yang meneliti efek kesehatan dari isolasi.

Dr. Julianne Holt-Lunstad, profesor psikologi di Universitas Brigham mengatakan bahwa terhubung dengan orang lain adalah kebutuhan dasar manusia.

"Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bayi yang kekurangan kontak dengan manusia akan gagal berkembang dengan baik dan cenderung akan mati," kata Julianne.

Tentu saja masalah ini perlu diperiksa lebih teliti, tapi temuannya cukup menarik.

Menurut artikel Huffington Post pada sudi ini, Inggris adalah ibukota kesepian Eropa.

Epidemi Kesepian di Inggris merugikan pemerintah lebih dari $ 25 juta per tahunnya.

Para ahli Kanada pada 2017 memperkirakan epidemi yang sama dapat menyerang Kanada segera karena semakin banyak warganya yang memilih untuk hidup sendiri.

Data dari Harvard Aging Brain Study pada hampir 80 orang dewasa menghubungkan kesepian dengan Alzheimer.

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Nancy J. Donovan, yang bertanya kepada pasien lansia 3 pertanyaan tentang kesepian dan kemudian menilai hasilnya bersama dengan tinkat plak amiloid di otak mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa depresi ringan memiliki efek yang lebih kuat pada peningkatan risiko penurunan kognitif bila dibandingkan dengan kesepian.

Dr. Donovan yakin bahwa gejala depresi yang lebih besar dapat mempengaruhi kinerja kognitif kita dan dapat menyebabkan demensia.

Pada akhirnya, kesepian, isolasi, dan depresi akan menjadi masalah global.

Itulah sebabnya kita perlu meningkatkan kesadaran tentang hal ini.

Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Tribun Bogor
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved