Tak Dikubur di Dalam Tanah, Ini Cerita di Balik Kuburan Bayi yang Menjadi Obyek Wisata di Toraja

Bayi-bayi yang meninggal tidak di kuburkan di dalam tanah, namun bayi-bayi tersebut ditanam di sebuah pohon.

Tak Dikubur di Dalam Tanah, Ini Cerita di Balik Kuburan Bayi yang Menjadi Obyek Wisata di Toraja
thinkstock
Ilustrasi pemakaman 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Putrie Agusti Saleha

BANGKAPOS.COM - Lazimnya di berbagai tempat apabila ada bayi yang meninggal dunia, maka akan langsung dikuburkan

sebagaimana mestinya mengikuti ajaran agama masing-masing.

Dalam agama Islam sendiri, bayi yang meninggal pun akan dikuburkan seperti orang meninggal pada umumnya.

Namun, di Tana Toraja, Sulawesi Selatan ada hal yang menarik.

Bayi-bayi yang meninggal tidak di kuburkan di dalam tanah, namun bayi-bayi tersebut ditanam di sebuah pohon.

Penasaran? Berikut ini lima fakta tentang kuburan bayi Kambira yang fenomenal.

Baca: Deretan Jenis Makanan Ini Dapat Menyebabkan Kematian, Salah Satunya Sering Kita Konsumsi

Baca: Begini Reaksi Ayu Ting Ting Saat Ungkap Hubungannya dengan Raffi Ahmad

1. Bayi berusia di bawah 6 bulan

Bayi yang dimakamkan secara khusus ini adalah bayi-bayi yang meninggal dunia saat usianya belum enam bulan.

Bayi yang berusia di bawah enam bulan masih dianggap suci dan tidak memiliki dosa sama sekali.

Sehingga dia harus melalui proses pemakaman khusus untuk membuatnya seolah kembali ke rahim ibu.

2. Dimakamkan tanpa sehelai kain penutup tubuh

Biasanya, jenazah akan dibungkus dengan kain kafan atau dikenakan pakaian yang baik.

Namun, bayi yang dimakamkan di pohon tarra tidak menggunakan sehelai kain apa pun.

Hal ini diyakini sebagai suatu simbolik bahwa para bayi tersebut kembali dalam keadaan suci layaknya di rahim ibunya.

3. Dilakukan oleh pengikut Aluk Tolodo.

Saat ini, tidak semua orang Toraja melakukan tradisi pemakaman bayi di pohon tarra.

Hal ini hanya dilakukan oleh mereka yang masih memegang teguh ajaran Ieluhur atau biasanya disebut Aluk Todolo.

4. Posisi makam sesuai dengan strata sosial.

Meski prosesinya sederhana, tapi upacara penguburan ini tidak boleh sembarangan.

Masyarakat Toraja masih meyakini jenjang strata sosial.

Sehingga, semakin tinggi strata sosial keluarga bayi, maka bayi akan mendapatkan tempat paling tinggi di pohon tarra.

Begitu pun sebaliknya.

Baca: Ini Trik dan Tips Jitu Jawab Soal CPNS 2018, Daftar CPNS di sscn.bkn.go.id

Baca: Oknum PNS Ini Tega Seret Istrinya Pakai Mobil Usai Ketahuan Bareng Wanita Lain

5. Letak makam menghadap ke arah rumah duka.

Selain strata sosial, hal berikutnya yang tidak dapat Iepas dari prosesi penguburan ini adalah letak makamnya.

Letak makam tidak sembarangan, melainkan harus diletakkan searah dengan rumah duka.

Hal ini untuk menghargai para keIuarga yang berkabung.

Prosesi ini senantiasa dilakukan sejak zaman Ieluhur hingga hari ini.

Menariknya, meski banyak bayi yang dimakamkan dalam satu pohon tarra, tetapi pemakaman itu tidak pernah bau busuk.

Masyarakat juga tidak pernah kehabisan pohon tarra untuk pemakaman.

Hingga saat ini pun, kuburan bayi Kambira ini pun kerap dikunjungi oara wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Apakah para pembaca sendiri juga akan berencana untuk berkunjung ke sini?

Baca: Terlanjur Kesal Sampai Bongkar Aib Sendiri, Kriss Hatta Minta Maaf, Deddy Corbuzier Sindir Ini

Penulis: Putrie Agusti Saleha
Editor: Alza Munzi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved