Dulu Warga PengkalenBatu Bawa Jenazah Pakai Sampan, Pasca Erzaldi & PT Timah Datang Ini yang Terjadi

Rawa-rawa inilah pintu masuk menuju kampung Pengkalen Batu yang puluhan tahun terisolir dan tanpa fasilitas pelayanan publik

Dulu Warga PengkalenBatu Bawa Jenazah Pakai Sampan, Pasca Erzaldi & PT Timah Datang Ini yang Terjadi
Kolase Dokumen PT Timah dan Bangka Pos
Pengkalen Batu 

Tidak ada akses lain yang bisa digunakan selain alur Sungai Pabrik.

Sekitar 20 menit berlayar dari Desa Ranggung, Bangka Pos tiba di pangkalan perahu Pengkalen Batu.

Wajar saja Pardi harus mahir mendayung sampan. Alur sungai yang dilalui bersama Bangka Pos cukup berkelok-kelok dan sempit.

Kawasan pemukiman Pengkalen Batu berjarak sekitar satu kilometer dari pangkalan perahu.

Jalan tanah berkerikil membawa Bangka Pos di perkampungan yang hanya mengandalkan listrik dari mesin diesel dan tenaga surya tersebut.

Pardi menyebut panel tenaga surya baru-baru ini saja dinikmati warga Pengkalen Batu.

"Sebelumnya kami menyumbang tiap minggunya sebesar Rp 15.000 per rumah untuk biaya bahan bakar diesel. Itupun hanya dihidupkan dari pukul 18.00 sampai 22.00. Panel tenaga surya itu bantuan dari Dinsos Basel," ujarnya.

Liliwati (40) duduk di teras rumahnya, sebuah rumah panggung berukuran 6x7 meter yang dibuat dari papan kayu.

Puluhan tahun hidup di Dusun Pengkalen, Lilawati sudah terbiasa hidup tanpa adanya akses pelayanan publik.

Tidak ada sekolah, petugas medis, bahkan kuburan mereka tak punya.

Halaman
1234
Penulis: teddymalaka
Editor: ediyusmanto
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved