Bahaya Rubella bagi Babel yang Merupakan Daerah Kepulauan dengan Program Daerah Wisata

Kepala Dinkes Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Mulyono Susanto menjelaskan kenapa Babel berbahaya jika target cakupan vaksin Mr tak tercapai

Bahaya Rubella bagi Babel yang Merupakan Daerah Kepulauan dengan Program Daerah Wisata
Bangka Pos / Dedy Qurniawan
Gubernur Kepulauan Babel Erzaldi Roesman Djohan saat memangku siswa SD N 21 Pangkalpinang, Rabu (26/9/2018). Erzaldi hadir pada sosialisasi dan pelaksanaan vaksin MR di sekolah tersebut. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Mulyono Susanto menjelaskan kenapa Babel berbahaya jika target cakupan vaksin Measles Rubella (MR) tak tercapai.

Babel yang merupakan daerah kepulauan dengan program daerah wisata menjadi alasan kenapa ketercapaian target cakupan vaksin MR penting.

Alasan lainnya adalah untuk melindungi generasi penerus di Babel. Karena itu, menurut Mulyono, Gubernur Babel menyatakan sudah mewajibkan vaksin MR.

"Babel adalah daerah pariwisata, karena itu, tidak mungkin itu tercapai kalau ada penyakit menularnya. Orang hamil tak ada yang mau (karena takut) ke sini kalau kita KLB Rubella... orang sini saja kalau hamil mending keluar Babel kalau kita KLB Rubella," kata Mulyono seusai sosialisasi dan pelaksanaan vaksin MR di SD N 21 Pangkalpinang, Rabu (26/9/2018).

Dia mengatakan, cakupan penuh vaksin MR di Babel juga penting untuk melindungi generasi Babel ke depan. Virus Rubella yang menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS) pada ibu hamil akan mengancam generasi Babel ke depan.

CRS adalah semacam kecacatan pada bayi yang tertular virus Rubella. Dampaknya berupa keterbelakangan mental karena otak yang mengecil, kebutaan, kebocoran jantung, dan gangguan lainnya pada organ tubuh tertentu.

Di Babel, Gubenrur Babel Erzaldi Rosman Djohan menyebut ada lima anak yang telah dirawat di Rumah Sakit Anak dan Bunda Harapan Kita, di Jakarta, karena CRS ini.

"Jadi semua usia anak-anak perlu kita imunisasi. Bukan hanya agar tak ada di Babel, tapi agar tak ada virusnya di seluruh Indonesia. Kalau hanya 60 persen, tidak ada gunanya, karena dia menular. Dan kita ini di pulau, risikonya terlalu tinggi, virusnya bisa ada di satu pulau ini (kalau target cakupan tak tercapai)," beber Mulyono.

Dari target 367 ribu anak berusia 9 bulan sampai 15 tahun, cakupan vaksin MR di Babel saat ini baru 42 persen. Cakupan tertinggi ada kabupaten kota ada di Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka, dan terendah ada di Bangka Tengah.

Menurut dia, pihaknya akan fokus untuk mensosialisasikan di tempat-tempat yang penolakan orangtuanya masif.

"Ya itu memang sudah disebut, bisa diperpanjang. Tetapi yang jadi permasalahan kami bukan perpanjangan waktu itu, tetapi penolakan. Karena walaupun diperpanjang tetapi tetap ada penolakan, ya cakupannya begitu-begitu saja, pada titik tertentu akan stuck," ujar Mulyono

Dia mengharapkan, seluruh masyarakat sadar dan mendukung pelaksanaan vaksin MR sehingga kekebalan komunitas bisa tercapai. Pasalnya vaksin ini berbahaya karena dampaknya jika tidak divaksin bersifat menular.

"Kami punya target 95 persen, jadi masyarakat Babel bisa terlindungi,"ujar dia.

Masyarakat diharapkan bisa menyeleksi dan mencerna dengan biak informasi terkait MR yang marak beredar di media sosial. "Kami optimistis ini tercapai dengan dukungan banyak pihak," ucap dia. (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved