Kabupaten Belitung Lakukan Bursa Inovasi Desa, Peningkatan Kapasitas SDM Jadi Prioritas Tahun 2019

Ada ratusan perangkat Desa hadir pada kegiatan yang terlaksana di Gedung Serba Guna Pemerintah Kabupaten Belitung tersebut

Kabupaten Belitung Lakukan Bursa Inovasi Desa, Peningkatan Kapasitas SDM Jadi Prioritas Tahun 2019
Bangka Pos / Disa Aryandi
Suasana kegiatan bursa inovasi Desa yang diselenggarakan oleh DPPKBPMD Kabupaten Belitung di Gedung Serbaguna, Kamis (27/9) 

Laporan Wartawan Pos Belitung, Disa Aryandi

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Belitung, Kamis (27/9/2018) melakukan Bursa Inovasi Desa.

Ada ratusan perangkat Desa hadir pada kegiatan yang terlaksana di Gedung Serba Guna Pemerintah Kabupaten Belitung tersebut.

Bursa inovasi Desa tersebut, merupakan program Kementerian Desa PDT, Transmigrasi Republik Indonesia yang sudah dimunculkan tahun sebelumnya.

Diprogram tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) diharuskan bukan hanya melakukan pengembangan disektor Pariwisata saja.

"Tapi secara secara konflek. Memang semua menginginkan semua terbentuk secara ideal, tapi proses yang terjadi sekarang itu harus dari awal betul-betul benar, sehingga realisasinya baik," kata  Koordinator Provinsi Bangka Belitung Konsultan Pedamping Wilayah Reza Jayadi kepada Posbelitung.co, Kamis (27/9/2018).

Kata Reza, realisasi bursa inovasi Desa tersebut pada pelaksanaannya memang bervariasi. Ada Pemdes yang memiliki inovasi kurang maksimal, dan maksimal. Khusus untuk Kabupaten Belitung, tidak jauh berbeda dengan Kabupaten lain.

"Cuma kami harap, dalam perencanaan program ini, terutama dalam penyerapan nya, harus lebih, dan dari awal sudah mulai, agar tidak tertinggal dengan kabupaten yang lain," ujarnya.

Ditahun 2019 mendatang, lanjut dia, mereka tetap melakukan pengarahan dengan melakukan peningkatan kapasitas masyarakat maupun kelompok masyarakat. Ini sebagai bentuk, penguatan sumber daya manusia (SDM) yang ada di Desa tersebut.

"Agar mereka kembali ke tatanan kekuatan ekonomi berdasarkan kelompok tadi. Dulu saja, memang kalau bertani tidak membutuhkan uang, karena ada sistem gotong royong, nah kalau sekarang apabila tidak ada uang, tidak bisa bertani," pungkasnya. (*)

Penulis: Disa Aryandi
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved