Pemprov Akan Buat Dua Kebijakan untuk Atasi Rendahnya Harga Karet dan Sawit Petani di Babel

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan mengambil dua kebijakan untuk mengatasi rendahnya harga tandan buah segar (TBS) sawit

Pemprov Akan Buat Dua Kebijakan untuk Atasi Rendahnya Harga Karet dan Sawit Petani di Babel
Bangka Pos / Krisyanidayati
Gubernur Babel, Erzaldi Rosman 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BANGKA- Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan mengambil dua kebijakan untuk mengatasi rendahnya harga tandan buah segar (TBS) sawit dan karet petani dalam waktu dekat.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur Babel Erzaldi Rosman di paripurna DPRD Babel dengan agenda persutujuan atas rancangan perubahan APBD Babel 2018 di gedung DPRD Babel, Kamis (27/9/2018).

Dua kebijakan itu adalah aturan soal penggunaan tawas dalam pengolahan karet dan terkait pemenuhan kualitas rendeman dari sawit petani Babel.

Erzaldi menyampaikan hal ini untuk menjawab tanggapan perwakilan fraksi PPP disampaikan Azawari Helmi mengenai merosotnya harga komoditas pertanian di Babel setahun terakhir.

Mengenai harga karet yang tak kunjung menggembirakan, Erzaldi menyebut itu terjadi karena selama lima tahun terakhir banyak karet di Babel diolah menggunakan tawas. Menurutnya, hal inilah yang menyebabkan harga karet petani murah.

Dia berencana mengajak DPRD membuat kebijakan yang mengharuskan penggunaan asam karet dalam pengolahan hasil karet.
"Nanti kami akan ambil kebijakan bersama, didukung DPRD, melarang tawas untuk dipakai mengolah karet. Kalau ini dilakukan, mungkin harga karet Babel bisa lebih tinggi,"kata dja.

Sementara terkait harga TBS sawit yang anjlok, Erzaldi menyebut ini terjadi karena ketidakmampuan pabrik menampung sawit petani. Kemudian, kualitas sawit petani juga rendah dan tak masuk standar rendeman pabrik.

Dia menjelaskan, ketidakmampuan pabrik menampung sawit petani terjadi karena selama moratorium penambahan luas kebun sawit di Indonesia, para petani membeli bibit sendiri. Hal ini tidak terdata oleh pemerintah.

"Sehingga kapasitas pabrik (yang ada) jadi kurang. Tahun depan kalau Babel tidak ambil tindakan, pabrik tidak ditambah, akan lebih parah, dan ini terjadi di Kepulauan Riau 10 sampai 15 tahun lalu," katanya.

Rendahnya harga TBS sawit yang justru tidak terjadi di Belitung, menurut Erzaldi, dikarenakan belum optimalnya sosialisasi kepada petani sehingga berdampak pada rendahnya kualitas sawit petani di Bangka.

Menurut dia, di Bangka kualitas rendeman sawit petani berada di kisaran 18 persen, sementara pabrik membutuhkan kualitas rendeman 22 persen.

"Jika menerima yang 18 persen, kualitas CPO-nya akan turun,"ucap dia.

Pemerintah, kata Erzaldi, mengajak komisi terkait di DPRD Babel mengundang berbagai pihak terkait untuk membuat aturan guna mengatasi ini.

"Saya janji dalam seminggu ini akan kami keluarkan aturan baru mengenai harga sawait ini. Harga ditetapkan, tapi rendeman harus jelas,"katanya (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved