Ketua Apkasindo Babel: Sudah Satu Tahun Harga TBS di Babel di Bawah Rp 1000/Kg

Harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya di Pulau Bangka terus merosot.

Ketua Apkasindo Babel: Sudah Satu Tahun Harga TBS di Babel di Bawah Rp 1000/Kg
Dokumen Bangka Pos
Kebun sawit milik warga di Desa Pasir Putih Kecamatan Muntok Kabupaten Bangka Barat, Kamis (9/8) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Krisyanidayati

BANGKAPOS.COM - Sejak satu tahun terakhir harga Tandan Buah Segar (TBS) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya di Pulau Bangka terus merosot.

Anjloknya harga TBS ini dirasakan para petani yang tidak bermitra dengan Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) maupun pabrik atau petani mandiri. Pasalnya harga TBS dua bulan belakangan masih bertengger sekitar Rp 400-500/kg di tingkat petani.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Babel, Alfian mengatakan pekan lalu pemerintah telah menetapkan harga beli sawit petani mandiri di tingkat pabrik Rp 1.028/kg. Namun, harga yang telah ditetapkan ini rupanya tidak berdampak banyak pada kenaikan harga TBS di tingkat petani.

Alfian mengasumsikan dengan harga beli di tingkat pabrik Rp 1.028, seharusnya harga TBS di tingkat petani bisa mencapai Rp 700-750/kg.

Ia menyebutkan saat ini masih bergantung dengan pengumpulan dan pemilik DO (Delivery Order) untuk bisa menjual hasil panen ke pabrik. Pasalnya, petani tidak bisa langsung menjual sehingga ada rentang harga yang cukup tinggi antara petani dengan pabrik.

"Harga Rp 1.028 itu berlaku efektif minggu kemarin, seharusnya yang semula dibeli 400-500 ada kenaikan 700-750 di tingkat petani. Tapi, ini hanya bertahan dua hari, hari ketiga itu turun lagi nyungsep ke harga Rp 400-500 karena pabrik ada yang tidak beli dan ada juga pabrik yang beli tapi Kuotanya dijatah," kata Alfian, Selasa (9/10/2018).

Dikatakan Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Babel, pabrik belum konsisten untuk menerapkan kesepakatan untuk membeli harga TBS sesuai yang telah ditetapkan. Akan menjadi percuma meskipun harga sawit dinaikkan, tetapi kuota pembelian pabrik ke petani sawit dikurangi.

"Yang tadinya satu pabrik dia beli 10 mobil per/hari, tapi dia cuma beli 4-5 mobil. Saya cek ke pedagang pengumpul yang beli TBS di Kampung, kata mereka akan mengambil resiko rugi kalau beli buah mahal mau dijual kemana karena pabrik membatasi pembelian dengan kuota," sebutnya.

Rendahnya harga sawit disaat petani panen ini menyebabkan banyak petani yang merugi. Tak jarang petani memilih membiarkan buahnya membusuk daripada harus menjual dengan harga yang rendah.

"Harga sawit diangka 400-500 ini sudah dua bulan terakhir, sebelumnya masih Rp 600-700. Kalau harga dibawah Rp 1.000 itu sudah 1 tahun terakhir," katanya.

Ia menyebutkan, petani akan mendapatkan keuntungan apabila harga beli TBS ditingkat petani diatas Rp 900. Saat ini biaya produksi dan perawatan TBS cukup tinggi, belum lagi waktu yang harus ditunggu pasalnya TBS baru dipanen setelah berusia tiga tahun.

"Idealnya harga jual petani ke pengepul jangan sampai dibawah Rp 900, larena cost harga pupuk yang sekarang mahal, dengan biaya tenaga kerja yang tidak bisa dibawah Rp 100/hari, dan kompenen lain. Kalau dibeli dibawah 900 di tingkat petani enggak ada untung, rugi yang ada," kata Alfian

Penulis: krisyanidayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved