Kecewa, Penikmat Kecap Akan Laporkan Pabrik Kecap SS

Sejumlah warga yang kesal akibat ulah pabrik pembuatan kecap SS siap menggugat dan melaporkan pabrik

Kecewa, Penikmat Kecap Akan Laporkan Pabrik Kecap SS
bangkapos/deddy marjaya
Rahmat Kurniawan menunjukkan Kecap SS yang sempat ia konsumsi selama ini Sabtu (13/10/2018).Deddy Marjaya 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Deddy Marjaya

BANGKAPOS.COM  -- Sejumlah warga yang kesal akibat ulah pabrik pembuatan kecap SS di Kuday Selatan Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka siap menggugat dan melaporkan pabrik tersebut ke pihak berwenang.

Sebab pabrik tersebut sudah menyalahi label halal MUI dan dianggap tidak higienis yang bisa menyebabkan penyakit.
Seperti diketahui Subdit Indag Ditkrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung menggerebek pabrik kecap murni yang memproduksi kecap merk SS dan Siong.

Saat itu didapati pabrik tersebut menggunakan bahan limbah pengolahan tebu dan mendapati penampungan kecap tidak higienis karena ditemukan bangkai cicak dan kotorannya.

"Ini sudah menipu masyarakat apalagi yang mengkonsumsi sebagian besar orang muslim kita minta MUI mencabut label halal nya dan siap melaporkan pemilik pabrik karena bahan yang digunakan tidak higienis," kata Rahmat Kurniawan warga Kampung nelayan II Sungailiat Sabtu (13/10/2018).

Rahmat juga berharap pihak seperti MUI, Dinkes dan Disperindag untuk mengambil tindakan karena mereka memiliki wewenang menyetop produksi serta menarik label halal dan sehat.

"Ini kan sudah meresahkan masyarakat ya MUI segera cabut label halalnya Dinkes juga begitu juga termasuk Disperindag untuk menyetop produksi pabrik kecap tersebut," kata Rahmat Kurniawan

Sebelumnya Kasubdit Indag Ditkrimsus Polda Kepulauan Bangka Belitung Kompol Wahyudi Rahman mengungkapkan saat itu memang kondisi tempat pengolahan pabrik terlihat kotor cdan tidak higienis. Apalagi ditemukan bangkai dan kotoran cicak didalam penampungan kecap. Padahal kecap yang diproduksi memiliki label halal MUI juga dari Dinkes DNA BPOM.

"Temuan kita ini juga akan kita teruskan ke isntansi terkait seperti MUI dan Dinkes," kata Kompol Wahyudi Rahman

Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Nardi Pratomo mengatakan pihaknya belum akan mengambil tindakan apapun dan menunggu hasil pemeriksaan dari kepolisian.

Halaman
12
Penulis: deddy_marjaya
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved