Video : Sawit Petani Mandiri Bangka Membusuk, Harganya Semakin Anjlok, Pabrik CPO Batasi Pembelian

Empat pekan silam, pedagang pengumpul mematok harga beli untuk TBS petani mandiri sekitar Rp 600 perkg. Tapi pekan ini

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit semakin memerah. Bahkan butiran buahnya sebagian memberondol jatuh ke tanah.

Maklum sudah sebulan TBS itu tak dipetik, sehingga membusuk di kebun. Petani bingung mau jual TBS kemana, sebab pedagang pengumpul (tengkulak) tak mau beli TBS karena alasan jatah pengiriman TBS ke pabrik CPO dibatasi oleh perusahaan.

Kalau pun pedagang pengumpul beli, harga TBS dipatok murah. Pedagang pengumpul beralasan jaga-jaga resiko buah (TBS) ditolak pabrik.

Akibatnya petani sawit mandiri di Kabupaten Bangka, hanya bisa mengusap dada. Dipanen salah tak dipanen malah semakin salah.

Empat pekan silam, pedagang pengumpul mematok harga beli untuk TBS petani mandiri sekitar Rp 600 perkg.

Tapi pekan ini harga anjlok lagi, berkisar Rp 500 hingga Rp 550 perkg, belum termasuk upah petik, Rp 150 perkg.

Setelah dihitung-hitung, petani hanya terima penghasilan kotor Rp 400 perkg, karena harus menanggung biaya pupuk, potong pelepah (pruning) dan baiaya perawatan lainnya.

Ironisnya, selain harga jual TBS yang semakin anjlok, masalah baru kembali menimpa petani mandiri.

Petani bingung mau jual TBS kemana karena pedagang pengumpul malah ikut-ikutan tak mau beli TBS. Kalaupun pedagang beli TBS petani, itu pun hanya dalam waktu tertentu saja, ketika mereka sudah mendapat jatah (DO) pengiriman ke pabrik.

Seorang Kuasa Pedagang Pengumpul TBS Sawit, Asew (45) mengatakan, mereka bukannya tak mau membantu membeli TBS sawit petani mandiri, tapi kondisinya yang memang tak memungkinkan.

Halaman
123
Penulis: ferylaskari
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved