Babel Nomor Tiga Tertinggi Angka Perkawinan Anak

Angka perkawinan anak di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Hasil survei BPS menunjukkan bahwa perkawinan anak mencapai 25,7 persen Tahun 2017

Babel Nomor Tiga Tertinggi Angka Perkawinan Anak
Bangka Pos / Edwardi
Kampanye dan deklarasi Stop Perkawinan Anak di Provinsi Kep Babel di Hotel Puncak Pangkalpinang, Rabu (17/10/2018) 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemprov Babel melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melaksanakan kampanye Gerakan Bersama Stop Perkawinan Anak dan Deklarasi Stop Perkawinan Anak di Hotel Puncak Pangkalpinang, Rabu (17/10/2018).

Kegiatan dibuka staf ahli gubernur Babel, Haryoso didampingi Kepala Dinas PPPA, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk KB Provinsi Babel, Susanti dan perwakilan Kementrian PPPA RI.

Haryoso mengatakan jika pertumbuhan penduduk seimbang dan keluarga berkualitas maka pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian, pengerahan mobilitas penduduk, pengembangan kualitas penduduk pada seluruh dimensinya dapat dikelola sesuai yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan yang diatur serta perkembangan penduduk.

"Penduduk menjadi sumber daya manusia yang tangguh bagi pembangunan secara adil dan merata menuju masyarakat yang sejahtera, namun pertumbuhan penduduk yang seimbang tidak akan terjadi bila angka perkawinan anak tinggi," kata Haryoso.

Diungkapkannya, angka perkawinan anak di Indonesia saat ini masih sangat tinggi. Hasil survei BPS menunjukkan bahwa perkawinan anak mencapai 25,7 persen Tahun 2017.

"Angka perkawinan anak ini terus meningkat dibandingkan tahun 2015 berjumlah 22,8 persen," ujarnya.

Ditegaskannya, Provinsi Kepuluan Babel termasuk provinsi yang tinggi angka perkawinan anak dengan 37,19 persen menempati posisi ketiga terbanyak di Indonesia.

"Karena itu pemerintah Provinsi Babel sangat berkepentingan dan berupaya dalam penurunan angka perkawinan anak ini karena perkawinan anak ini dibawah usia 18 tahun," katanya.

Dilanjutkannya, bila angka perkawinan anak ini tinggi akan berdampak pada kegagalan Indonesia umumnya dan Provinsi Babel khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan dan upaya penurunan ketimpangan lainnya," tukasnya.(*)

Penulis: edwardi
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved