Kabupaten Bangka Peringkat Ke Empat Jumlah Pernikahan Dini Tertinggi di Babel

Dampak pernikahan dini terjadinya perceraian pada usia muda, bisa menyebabkan kematian terhadap ibu dan bayi.

Kabupaten Bangka Peringkat Ke Empat Jumlah Pernikahan Dini Tertinggi di Babel
Dokumen Bangka Pos
Boy Yandra 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM  --  Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menempati urutan ketiga untuk tingginya angka pernikahan dini dari seluruh provinsi di Indonesia. Sedangkan Kabupaten Bangka menempati urutan keempat untuk angka pernikahan dini di Babel setelah Bangka Selatan, Belitung dan Bangka Tengah.

Menurut Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Bangka, Boy Yandra, untuk yang paling tinggi angka pernikahan dini di Kabupaten Bangka yakni di Kecamatan Belinyu, Mendobarat, dan Merawang.

"Upaya kami untuk mengatasi pernikahan dini ini melalui program Dekela (Desa Kelurahan Layak Anak) sudah semua kecamatan kita turun dan ada 18 desa yang sudah kita bina kemudian forum kabupaten layak anak sudah kita bentuk dan kegiatan sudah dilaksanakan oleh remaja-remaja. Kita juga intens di sekolah-sekolah membentuk PIK remaja," jelas Boy Yandra kepada bangkapos.com, Rabu (17/10/2018).

Ia menilai penyebab maraknya pernikahan dini ini karena tempat bermain anak-anak di desa masih kurang, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak dimana anak yang keluar malam dibiarkan, dan pergaulan bebas.

"Kalau yang kami lihat di dua desa kejadian-kejadian itu dia sering kumpul malam. Ada umur 14, umur 15 yang ada di wilayah kita untuk pernikahan dini," ungkap Boy Yandra.

Untuk itu, ia menyarankan agar pengawasan orang tua terhadap anak lebih maksimal saat anak keluar rumah orang tua harus tahu, jam berapa anak tidur malam dan pengunaan handphone juga harus diawasi dengan intens.

Dijelaskannya dampak pernikahan dini diantaranya terjadinya perceraian pada usia muda, bahaya terhadap kesehatan reproduksi yang belum siap, bisa menyebabkan kematian terhadap ibu dan bayi.

"Gizinya dia belum paham pada saat hamil maka dari itulah pernikahan dini bisa menyebabkan stunting (gizi buruk) nantinya. Salah satu penyeban stunting itu pernikahan dini karena orang tua dak paham gizi untuk anaknya," kata Boy Yandra.

Ia berharap pada tahun 2019 ini untuk mengatasi stunting ini sudah ada program di Kabupaten Bangka.

"Ada beberapa lintas sektor program di Kabupaten Bangka. Jadi ada lintas sektor yang terkait untuk membahas bagaimana Bangka ini tidak terjadi stunting lagi. Salah satunya adalah tidak melakukan nikah usia muda atau pernikahan dini," saran Boy Yandra.

Penulis: nurhayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved