Proyek Drainase Dibangun di Lahan Sengketa, Warga Ini Protes

Amir mengaku ia sendiri selaku warga sempat merasa terkejut lantaran ia baru mengetahui jika proyek

Proyek Drainase Dibangun di Lahan Sengketa, Warga Ini Protes
Bangkapos/Ryan Agusta
Camat Bukit Intan, Efran (kanan) saat berdialog dengan seorang warga (Amir) terkait persoalan lahan milik warga diduga bakal terkena dampak proyek pembangunan jalan & drainase di lingkungan Pasir Putih, Kota Pangkalpinang. 

Laporan wartawan Bangka Pos, Ryan A Prakasa

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Rencana proyek pembangunan jalan berikut drainase di lingkungan Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang saat ini telah dicanangkan oleh pihak pemerintah daerah menuai protes dari seorang warga setempat.

Pasalnya proyek di bawah naungan pihak kelurahan setempat diduga bakal dibangun di atas tanah 'bermasalah'.

Hal tersebut diungkapkan oleh seorang warga asal lingkungan RT 06, RW 02, Pasir Putih, Pangkalpinang, Amir (48).

Amir mengaku ia sendiri selaku warga sempat merasa terkejut lantaran ia baru mengetahui jika proyek pembangunan jalan dan drainase itu bakal dibangun di lokasi lahan yang saat sedang disengketakan olehnya setelah mendapat informasi dari warga di lingkungan tempat tinggalnya.

"Bagaimana mungkin bisa membangun di lahan yang sedang bersengketa. Ini sangat ironis. Terlebih lagi rencana kegiatan proyek pembangunan drainase di lingkungan RT setempat," sesal Amir di hadapan wartawan, Jumat (8/11/2018) siang di temui di kediaman lingkungan Pasir Putih.

Diterangkan Amir lebih detil perihal lahan sengketa yang dimaksudnya itu dengan total luas sekitar 2 hektar (ha) terletak di lingkungan RT 06, RW 03, Pasir Putih.

Lahan seluas tersebut menurutnya berdasarkan surat tanah (Surat Keterangan Hak Usaha Atas Tanah/SKHUAT) Nomor : 43/01 - KPP/1982 dengan total luas sekitar 20.000 meter persegi.

"Ditambah lagi dengan bukti SKHUAT Nomor : 19/01 - KPP/ 1982 sebagaimana sesuai dalam surat tersebut menerangkan jika tanah seluas sekitar 1000 meter persegi kurang lebih. Jadi keseluruhan total luas tanah tersebut adalah milik Saleh Ode Djauhari (almarhum --red) dulu totalnya hampir mencapai 2 hektar lebih," terangnya.

Terkait kepemilikan tanah tersebut menurut Amir justru sebagian telah dijual almarhum (Saleh Ode Djauhari -- red) luas kurang lebih 1000 meter persegi itu kepada saudara M.Bani. lalu luas tanah lainnya seluas 20.000 meter persegi dijual lagi oleh ahli waris almarhum Saleh Ode Djauhari kepada saudara Ibnu Haidir Atas.

Halaman
12
Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved