Awasi Peredaran Buku Agama Bermasalah Direktur B Kejagung Datangi Pelabuhan Pangkalbalam

Beredarnya buku-buku cetak agama di Indonesia dianggap menyimpang menjadi perhatian pihak Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI)

Awasi Peredaran Buku Agama Bermasalah Direktur B Kejagung Datangi Pelabuhan Pangkalbalam
Bangka Pos / Ryan Augusta
Direktur B JAM Intelijen Kejagung RI, Muhamad Yusuf saat diwawacarai para wartawan di sela-sela kunjungannya di pelabuhan Pangkalbalam 

Laporan wartawan Bangka Pos Ryan A Prakasa

PANGKALPINANG,BANGKA - Beredarnya buku-buku cetak agama di Indonesia dianggap menyimpang menjadi perhatian pihak Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI).

Terkait kasus itu pula, Direktur Sosial Budaya & Kemasyarakatan (Direktur B), Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung (Kejagung), Muhamad Yusuf, Kamis (15/11/2018) berkunjung ke Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Kunjungan mantan Wakil Kepala Kejati Kalimantan Timur (Kaltim) bersama rombongan termasuk Asisten Intelijen (Asintel) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Babel, ke pulau Bangka diketahui guna memantau situasi kawasan Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang.

Kedatanganya ke kawasan pelabuhan setempat bersama rombongan saat itu sempat menjadi perhatian para pegawai sejumlah intansi di lingkungan pelabuhan setempat.

Muhamad Yusuf mengatakan pihaknya sengaja melakukan peninjauan ke kawasan pelabuhan Pangkalbalam saat itu terkait upaya pengawasan beredarnya sejumlah buku-buku cetak tentang agama maupun buku cetak tentang adat , sosial dan budaya namun beragam buku cetak itu dianggapnya telah menyimpang dari ketentuan Undang-Undang Dasar 1945.

"Buku-buku yang beredar itu berisikan yang mengganggu kondisi ketertiban dan keamananan masyarakat dan buku-buku itu pun menyangkut masalah agama sosial dan budaya namun melanggar dari ketentuan Undang-Undang Dasar 45 maupun Pancasila," ungkap Yusuf saat ditemui wartawan di sela-sela kunjungannya di pelabuhan Pangkal Balam, Kamis (15/11/2018) pagi.

Ia meyakini jika peredaran buku-buku cetak agama yang menyimpang tersebut bisa masuk bebas ke daerah-daerah yakni melalui pelabuhan-pelabuhan yang ada di daerah.

"Karena jalur-jalur masuk melalui bandara-bandara termasuk banda internasional lebih ketat pengawasannya jadi mereka (pelaku -- red) biasa menggunakan jalur laut atau pun jalur sungai-sungai," terangnya. (*)

Penulis: ryan augusta
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved