Ini Isi Surat Bocah Kelas 3 SD Sehari Sebelum Tewas Bersama Kakak dan Kedua Orangtuanya di Rumah

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus menyelidiki penyebab meninggalnya satu keluarga tersebut.

Ini Isi Surat Bocah Kelas 3 SD Sehari Sebelum Tewas Bersama Kakak dan Kedua Orangtuanya di Rumah
Warta Kota
Suasana rumah duka pembunuhan satu keluarga di Jalan Bojong Nangka II, Jatirahayu, Pondok Melati Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (13/11/2018). 

Mendapat surat tersebut, Maya mengaku senang hingga tersenyum saat membacanya

Ia juga mendoakan putri pertamanya itu.

"Dapat surat dari boru panggoaran. masih kelas 3 SD.

Lucu juga ya senyum-senyum membacanya asal lah nggak cuma tulisan doang. hehehehe.

TUHAN Memberkatimu ya Boru. jadi anak yang takut akan TUHAN," tulis Maya Boru Ambarita.

Fakta-Fakta Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi

Terkait kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi, berikut sederet fakta yang Tribun Wow rangkum dari sejumlah sumber:

1. Awal Korban Ditemukan

Dilansir TribunWow.com dari WartaKotaLive.com, Selasa (13/11/2018), korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya yang bernama Feby Lofa.

Awalnya, Feby merasa curiga saat melihat gerbang rumah korban yang masih terbuka

dan televisi yang juga masih dalam kondisi menyala di jam 03.30 WIB.

Merasa heran Feby sempat mencoba memanggil keluarga korban dari luar.

Tak hanya itu, ia juga sempat mencoba untuk menelepon korban.

Namun karena tidak mendapat jawaban, Feby memutuskan kembali masuk ke dalam rumahnya.

"Saya sempat lihat gerbangnya kebuka, saya panggil tidak nyahut, padahal TV nyala, kira saya tidur kali. Ya sudah saya pulang ke kontrakan," ucap Febby.

Kecurigaannya semakin menjadi saat mengetahui korban belum berangkat kerja di pagi harinya.

Merasa penasaran, ia pun memberanikan diri untuk membuka jendela rumah korban.

"Biasanya korban ini (suaminya) kan kerja suka berangkat sekitar pukul 06.30 WIB. Tapi

belum bangun juga, saya lihat lewat jendela ternyata penghuni rumah tergeletak penuh darah," tambahnya.

Kaget dengan kondisi keluarga korban yang sudah bersimbah darah, Feby segera meminta tolong dan melapor ke warga di sekitar rumahnya dan juga Ketua RT.

"Saya kasih tahu warga lain dan Pak RT. Terus langsung nelpon polsek Pondok Gede," ujarnya.

2. Kondisi Korban Pembunuhan

Mengutip Tribun Jakarta, Kapolres Metro Bekasi Kombes Indarto mengatakan terdapat luka yang berbeda-beda yang dialami oleh keempat korban.

Diperum Nainggolan (38) kepala keluarga mengalami luka pada bagian leher, Maya Boru Ambarita (37) istri mengalami luka yang sama pada bagian leher.

Kemudian kedua anak yakni Sarah Boru Nainggolan (9) dan Arya Nainggolan (7) tidak

mengalami luka terbuka namun tewas diduga akibat disekap hingga kehabisan oksigen.

"Sedangkan untuk anak luka kehabisan oksigen karena tidak ditemukan luka terbuka. Nanti hasil tepatnya semua jenazah kita kirimkan ke Kramat Jati untuk diotopsi," jelas dia.

Adapun keempat korban yakni suami dan isteri ditemukan di ruang televisi sedangkan kedua anaknya ditemukan di ruang tidur.

"Korban saat ditemukan sudah berlumuran darah di ruang tv, sedangkan kedua anaknya ditemukan di kamar tidur," jelas Indarto.

Sementara itu, diberitakan WartaKotalive.com, Kepala Forensik Rumah Sakit Polri Kramat Jati,

Kombes pol Edy Purnomo mengungkapan setelah melakukan pemeriksaan pada

kondisi jenazah korban pembunuhan satu keluarga ini, ia menemukan banyak luka pada tubuh korban.

Tak hanya luka yang disebabkan oleh senjata tajam ( sajam), Edy menuturkan, tim forensik

juga menemukan sejumlah luka yang berasal dari benda tumpul pada tubuh korban.

Bahkan, jelasnya, di tubuh kedua anak korban juga terdapat luka senjata tajam.

"Luka senjata tajam, ada banyak, ada benda tumpul juga. Anak juga ada luka sajam," kata Edy Purnomo, Selasa (13/11/2018).

Edy mengungkapkan, luka yang diderita para korban terdapat di perut hingga ke kepala.

Untuk luka yang paling fatal, Edi menyebutkan, terdapat di leher dan kepala korban.

"Luka ada di leher semua. Memang ada yang di dada tapi tidak terlalu fatal. Tapi umumnya yang fatal sekali ada di leher dan di kepala," kata Edy.

3. Pengakuan Tetangga Korban

Seorang tetangga korban, Lita yang saat itu tengah berbelanja di warung korban,

mengatakan sempat mendengar percakapan satu di antara korban, yakni kepala keluarga, Diperum Nainggolan (38) dengan seseorang

melalui telepon genggam, Senin (12/11/2018) sekitar pukul 16.30 WIB, dilansir dari WartaKotaLive.com, Selasa (13/11/2018).

Lita mengatakan Diperum menelepon dengan suara dan nada yang keras.

"Saya enggak sengaja dengar bapak itu nelepon gitu, nada keras marah-marah gitu," ungkapnya kepada Warta Kota di lokasi, Selasa (13/11/2018).

Lita juga sempat bertanya kepada istri Diperum, Maya Boru Ambarita (37) yang juga menjadi korban tewas.

"Saya tanya istri korban, Maya Boru Ambarita (37). Saya tanya ke istrinya, kenapa

bapak marah-marah bu? Dia jawab, 'udah kamu enggak usah ikutan', sama istrinya

ngomong gitu, habis itu dia langsung masuk ke dalam," beber Lita.

Menurut pengakuan Lita, percakapan Diperum saat menelepon tengah membicarakan persoalan uang dan mobil.

4. Motif Pembunuhan

Dilansir TribunWow.com dari TribunJakarta.com, Selasa (13/11/2018), Karo Penmas Divisi

Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan saat ini dugaan motif pelaku pembunuhan karena ada dendam terhadap korban.

Dugaan ini menurut pihaknya, melihat dari kasus-kasus yang ditangani kepolisian sebelumnya.

"Dari pengalaman dan dari hasil yang ditangani kepolisian (sebelumnya). Kalau sadis dan yang dibunuh bukan satu orang, itu ada latar belakang dendam. Ini dari hasil pengalaman yang sudah dikerjakan kepolisian," ujar Dedi Prasetyo, Selasa (13/11/2018).

Namun, Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa hal tersebut masih menjadi dugaan sementara, karena proses penyelidikan masih dilakukan oleh Polres Metro Bekasi Kota.

Menurut Dedi lantaran setiap kasus memiliki karakter sendiri.

"Secara umum oke lah, kalau secara global ya itu bisa dibilang ‘diduga’. Tapi kasus

pembunuhan sadis dan lebih dari satu orang, mayoritas karena dendam," ujar Dedi Prasetyo.

Lanjutnya Dedi mengatakan pihaknya terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus pembunuhan ini.

"Penyidik akan lihat fakta itu, apakah kasus pembunuhan atau hanya untuk mengelabui suatu peristiwa. Polisi harus matang, ada labfor (laboratorium forensik), ada Inafis. Itu kita libatkan," ujar Dedi Prasetyo.

(TribunWow.com/Ananda Putri Octaviani)

Editor: Alza Munzi
Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved