Pelamar Lowongan Kerja di Asrama Haji Babel Membludak Capai 2000 Lebih Peserta

Pendaftaran lowongan kerja tenaga kerja nonPNS atau tenaga kontrak tidak tetap di Kemenag Babel capai 2000 lebih pelamar

Pelamar Lowongan Kerja di Asrama Haji Babel Membludak Capai 2000 Lebih Peserta
Bangka Pos / Edwardi
Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Wilayah Babel, H Ruslan 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Sejak dibuka hari Senin, 3 Desember 2018 pendaftaran lowongan kerja tenaga kerja nonPNS atau tenaga kontrak tidak tetap di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) sampai hari Kamis (06/12/2018) tercatat sekitar 2.000 lebih pelamar mendaftarkan diri.

Sementara jumlah lowongan kerja yang tersedia hanya 26 orang untuk ditempatkan di Asrama Haji Babel.

“Sejak dibuka tanggal 3 sampai 6 Desember 2018 kami sudah menerima pendaftaran pencarian tenaga kerja sebanyak 2000 lebih orang, padahal yang diterima hanya 26 orang saja,” kata H Ruslan, Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama Wilayah Babel.

Diakuinya, tidak menyangka lowongan pekerjaan tenaga kerja kontrak tidak tetap kementerian Agama Wilayah Babel diserbu ribuan pencari kerja.

"Saya mengira hanya ratusan tapi tembus 2 ribu lebih sampai batas pendaftaran ditutup Kamis, 6 Desember pukul 14.00 WIB," ujarnya.

Menurutnya, ini sebuah fenomena baru di Babel, karena saat ini ekonomi di Babel sedang sulit.

"Peserta yang telah memenuhi syarat-syarat administrasi dinyatakan lulus mereka akan mengikuti tes dasar," ujarnya.

Selanjutnya, peserta ikut tes wawancara yang akan dilaksanakan di MAN dan MTSN di Jalan Mentok atau Jalan Depati Amir Kota Pangkalpinang.

“Hal ini menjadi pelajaran bagi pegawai Kemenag Babel agar menjadi motivasi bagi mereka, masak sudah jadi PNS dan honorer kerjanya nggak benar. Sedangkan diluar sana ribuan orang sedang mencari kerja,” imbuhnya.

Ruslan mengingat sewaktu dirinya masih menjabat sebagai kepala kantor agama di daerah, pekerjaan seperti ini tidak dihiraukan orang karena saat itu harga lada, sawit dan karet mahal.

“Ini sebuah bukti nyata gara-gara harga hasil pertanian murah, penggangguran pun meningkat,” tukasnya. (BANGKAPOS.COM/EDWARDI)

Penulis: edwardi
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved