Mahfud MD Singung Nasionalisme Generasi Millenial saat Kunjungi Pelajar Indonesia di Jepang

Mahfud MD memberikan wejangan kepada para pelajar Indonesia di Tokodai kampus Ookayama mengenai nasionalisme Indonesia.

Mahfud MD Singung Nasionalisme Generasi Millenial saat Kunjungi Pelajar Indonesia di Jepang
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Mahfud MD mengunjungi redaksi Kompas.com di Jakarta, Kamis (19/9/2013). Dalam kunjungan tersebut, Mahfud memaparkan gagasan kebangsaannya terkait dukungan untuk mencalonkan diri menjadi calon presiden pada pemilu 2014. 

BANGKAPOS,COM - Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U.(61 memberikan wejangan kepada para pelajar Indonesia di Tokodai kampus Ookayama kemarin malam (8/12/2018) mengenai nasionalisme Indonesia.

"Kekayaan alam Indonesia menurut KPK, hanya dari pertambangan saja, kalau dikelola negara dengan baik, maka sebenarnya rakyat bisa memperoleh uang dari negara tiap orang Rp.20 juta per bulan. Belum lagi kekayaan perikanan kita, dan lainnya," papar Mahfud MD.

Menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013 dan anggota pengarah Badan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila itu, apabila kekayaan negara tersebut tidak bisa dikelola dengan baik, maka ditakutkan nasionalisme khususnya para anak millenial akan luntur di masa depan.

"Anak saya pulang dari New York setelah di wisuda dari Universitas Columbia. Saya sekolahkan di sana dia. Pulang ke Indonesia saya minta jadi dosen tidak mau karena gaji dosen cuma 4 juta sedangkan di sana saja belum lulus sudah diminta kerja dengan gaji besar. Anak millenial ya gitu itu. Kalau pemerintah tak bisa mengelola sumber daya alam dengan baik, bisa luntur nasionalismenya," paparnya.

Mahfud MD yang baru pulang dari Australia juga menceritakan pengalamannya di sana.

"Saya baru pulang dari Australia. Ternyata kerja satu jam bisa dapat 12 dolar Australia. Di Indonesia, banyak orang miskin, banyak kekayaan alam tidak dikelola baik. Nah itu tugas kita untuk membangun bangsa agar semua kekayaan alam nantinya bisa dikelola dengan baik bagi kesejahteraan rakyat kita sendiri," paparnya lagi.

Mahfud MD pun menyinggung pula kisahnya saat mau menjadi wakil presiden.

Mahfud MD berfoto bersama dengan para pelajar Indonesia yang ada di Jepang
Mahfud MD berfoto bersama dengan para pelajar Indonesia yang ada di Jepang (TRIBUNNEWS.COM/Richard Susilo)

"Di dalam politik tidak ada kawan abadi tidak ada lawan abadi, semua ada kepentingan. Biasa suatu waktu ada belokan terjadi perubahan di saat terakhir. Lihat saja saya saat mau jadi wakil presiden. Ya tidak apa tidak jadi wakil presiden memangnya saya harus marah? Mau apa sih? Lalu saya berpikir begini. Saya berpikir kepada Tuhan, mungkin suatu saat saya dapat yang lebih baik dari sekarang," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan sangat meriah dari semua yang hadir.

Saya kan tidak diumumkan sebagai wakil presiden ya tidak apa-apa. Coba lihat saja pendahulu kita yang pernah jadi presiden, saya tak rugi apa-apa kok.

"Lihat Bung Karno sudah jadi presiden diusir dari istana, Soeharto sudah jadi presiden diusur dari istana, Gus Dur jadi presiden diusir dari negara. Mereka berkorban luar biasa. Saya tak diumumkan jadi wakil presiden ya sudahlah, mau ngapain?"

Halaman
12
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved