Polres Belitung Imbau Masyarakat Berhenti Sebarkan Video CCTV Bocah Terlindas Mobil Tetangga

Kami meminta untuk berhenti menyebar video itu. Karena, sekarang ada Undang-undang yang dapat

Polres Belitung Imbau Masyarakat Berhenti Sebarkan Video CCTV Bocah Terlindas Mobil Tetangga
posbelitung.co/dede s
Kasubag Humas Polres Belitung AKP Mahmud menunjukkan menunjukan buku peraturan Undang-Undang penggunaan media sosial, Selasa (18/12/2018). 

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Polres Belitung memberikan imbauan kepada masyarakat agar berhenti menyebarkan video rekaman CCTV atas kasus bocah lima tahun yang tewas terlindas mobil tetangganya.

Kasubag Humas Polres Belitung AKP Mahmud mengatakan, dirinya sudah mengetahui bahwa video tersebut sudah viral di media sosial.

Menurutnya penyebaran video yang dianggap sebagian itu justru akan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

"Masyarakat tidak perlu panik. Sebab, proses hukum sudah dilakukan sesuai Undang-Undang yang berlaku dan tersangkanya sudah dilakukan penahanan," ujarnya Selasa (18/12/2018).

Ia menegaskan akan menindak siapapun jika terbukti dengan sengaja menyebar video tersebut.

Sebab, dengan beredarnya rekaman tersebut, menimbulkan kebencian yang berlebihan terhadap keluarga pelaku maupun korban.

"Kami meminta untuk berhenti menyebar video itu. Karena, sekarang ada Undang-undang yang dapat menyerat siapapun dengan sengaja menyebar video dengan tujuan menimbukan rasa kebencian dan permusuhan," jelas Mahmud.

Hal tersebut diatur dalam Pasal 28 Undang-undang Dasar Republik Indonesia (UUD RI) Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Perubahan UUD RI Nomor 19 Tahun 2019, Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

"Ancaman hukuman enam tahun penjara dan/atau, denda sebanyak Rp 1 Miliar. Maka dari itu, kami meminta untuk berhenti menyebar video dan juga berita hoax," katanya.

Sebelumnya, Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana mengatakan proses penyidikan masih terus dilakukan dan tersangka masih ditahan di Mapolres Belitung.

Lalu, penyidik juga sudah berangkat ke Laboratorium Forensik Jakarta karena terkait barang bukti CCTV, pihaknya harus Labfor digital untuk mengambil DVR sebagai barang bukti.

Selain itu, pihaknya keterangan tanggapan ahli ‎digital yang menyatakan bahwa video tersebut asli bukan rekayasa.

"Itu harus ada kete‎rangan ahli digital dan kami juga sudah ke Labfor digital Jakarta, selain kami lihat dari hasil visum korban, barang bukti kendaraan, keterangan saksi sampai dengan tersangka itu sendiri," ungkapnya. (*)

Penulis: Dede Suhendar
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved