Diungkap Bank Indonesia, Inilah Sejumlah Potensi Resiko Ekonomi Babel 2019

Dari sisi eksternal, penurunan harga dan volume permintaan komoditas ekspor, dan potensi perang

Diungkap Bank Indonesia, Inilah Sejumlah Potensi Resiko Ekonomi Babel 2019
Bangka Pos/Krisyanidayati
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Tantan Heroika mengatakan ada beberapa potensi resiko dan outlook ekonomi Bangka Belitung tahun 2019.

Tantan menjabarkan, perkembangan ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian pada tahun 2019 diperkirakan secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung.

Dari sisi eksternal, penurunan harga dan volume permintaan komoditas ekspor, dan potensi perang dagang Amerika-Tiongkok diperkirakan dapat menekan pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, dari sisi internal potensi risiko terutama berasal dari pengetatan kebijakan moneter, kemudahan berinvestasi, kenaikan upah minimum, serta gangguan cuaca.

"Meskipun masih terdapat risiko pada tahun 2019, pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih kuat dan kondusif, dan inflasi tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada tahun 2019

diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,0-5,5%. Di sisi lain, kami memperkirakan inflasi Bangka Belitung masih berada dalam rentang 3,5%±1% (yoy)," papar Tantan dalam pertemuan tahunan BI ruang rapat Tanjung Kelayang Lantai 4 Kantor BI Perwakilan Babel, Kamis (20/12/2018).

Tantangan dalam mengakselerasi perekonomian di Babel diantaranya, penurunan harga komoditas ekspor utama di Babel perlu menjadi perhatian.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan hilirisasi agar dapat tetap memberikan nilai tambah.

Optimalisasi implementasi kebijakan kemudahan investasi dan perluasan akses pasar juga perlu dipercepat agar para investor tidak ragu lagi untuk menanamkan modal di Babel.

Dalam rangka pengendalian inflasi, ketergantungan bahan pangan dari luar daerah menjadi masalah struktural yang perlu segera dipecahkan agar tidak terjadi pola siklikal dengan gejolak yang signifikan.

"Selain itu, juga perlu dilakukan pengembangan sektor ekonomi potensial
lainnya agar struktur ekonomi di Babel dapat lebih resilien," tambahnya.

Tak hanya itu, kebijakan reformasi struktural di sektor riil perlu diperluas dan dipercepat untuk peningkatan daya saing, investasi, produktifitas, perdagangan, ketenagakerjaan dan kepastian hukum.

"Melalui upaya tersebut diharapkan dapat mendukung upaya kita dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi," katanya.

Tantan menyebutkan, tantangan ekonomi kedepan tidaklah ringan, maka diperlukan kolaborasi yang baik dari semua pihak.

"Sinergi kebijakan antar otoritas menjadi kunci dalam upaya untuk memperkuat struktur ekonomi," ujarnya. (Bangka Pos/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved