Terkait TPA Paritenam, Bau Sampahnya Sampai ke Bandara hingga Kantor Pemprov

Pada saat-saat tertentu, TPA Paritenam kerap menyebarkan bau tak sedap bahkan hingga ke kawasan Bandara Depati Amir hingga kantor pemprov

Terkait TPA Paritenam, Bau Sampahnya Sampai ke Bandara hingga Kantor Pemprov
Bangkapos/Edwardi
Pedagang pasar dari blok lain tampak membuang sampah di areal lahan kosong di depan pintu masuk Pasar Kemangi. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pangkalpinang Jumhari mengatakan, rencana pembangunan TPA Regional saat ini stagnan. Pada rapat di tingkat DLH Provinsi Babel Rabu (9/1/2019) misalnya, persoalan TPA juga banyak tak disinggung.

Rapat itu diketahui memang membahas soal TPS3R dan pengurangan sampah plastik untuk dibawa ke rapat koordinasi bersama Gubernur Babel pada 17 dan 18 Januari di Belitung nanti.

"Kalau TPA Regional itu sepertinya stagnan, tidak ada perkembangan, tidak ada kemajuan, stagnasi. Kalau berdasarkan yang kami harapkan, ya ini tidak sesuai," kata Jumhari, Rabu (9/1/2019).

Dia mengatakan, Pangkalpinang sebenarnya telah berupaya mengantisipasi overload-nya TPA Paritenam. Lahan seluas 2,4 hektare di kawasan tersebut telah dibebaskan untuk menambah daya tampung TPA.

Upaya ini dianggap mampu memperpanjang umur TPA menjadi tiga atau lima tahun lagi. Tetapi, kata Jumhari, yang jadi persoalan TPA Paritenam bukan hanya masalah overload.

Melainkan juga posisinya yang berada di dalam kota dan dianggap sudah tidak representatif. Pada saat-saat tertentu, TPA Paritenam kerap menyebarkan bau tak sedap bahkan hingga ke kawasan Bandara Depati Amir dan kompleks perkantoran Gubernur Babel.

"Yang kami pikirkan itu (soal baunya), ini kan masuk lingkungan kota, ini yang harus dipikirkan. Persoalan baunya, seperti yang disampaikan Pak Gub, bisa sampai bandara baunya. Ini yang perlu diantisipasi. Kalau overload kami sudah antisipasi dengan perluasan, kalau tidak ya hancur Pangkalpinang, tidak bisa tertampung lagi," kata dia.

Dia menjelaskan, Pangkalpinang telah berupaya mengedukasi pengolahan sampah di tingkat rumah tangga. Upaya ini juga dilakukan untuk mengakali overloadnya TPA Paritenam.

Hanya saja Jumhari mengakui bahwa pengolahan sampah di tingkat rumah tangga ini belum maksimal.

"Ini sudah kami galakkan TPS3R, bank sampah, ini kan untuk antisipasi seperti ini. Saya katakan memang belum maksimal, masih banyak warga yang belum memilah sampah mereka, ini mengubah mindset masyarakat agak sulit, sama seperti melarang masyarakat membuang sampah sembarangan," tutur dia. (BANGKAPOS.COM / Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved