Mengenang Sosok Sahabudin Sang Pahlawan Daerah Babel

Sosok Sahabudin pun tak lepas dari peristiwa pertempuran yang terjadi di laut Arafuru pada 57 tahun silam.

Mengenang Sosok Sahabudin Sang Pahlawan Daerah Babel
Dok Lanal Babel
Para perwira Lanal Bangka Belitung pose bersama dengan latar belakang monumen pahlawan Trikora, Sahabudin di halaman GOR Sahabudin. 

BANGKAPOS.COM  -- Mungkin hanya sebagian saja masyarakat Bangka Belitung (Babel) mengenal sosok Sahabudin. Sosok Sahabudin sesungguhnya merupakan pahlawan daerah atau bangsa.

Sosok Sahabudin pun tak lepas dari peristiwa pertempuran yang terjadi di laut Arafuru pada 57 tahun silam. Pertempuran Laut Arafuru (Aru) terjadi 15 Januari 1962. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa heroik dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Pada prisriwa pertempuran itu disebutkan 3 (tiga) unit kapal cepat ALRI yaitu RI Harimau, Macan Tutul dan RI Macan Kumbang berjibaku melawan tiga kapal kombatan utama dan sebuah pesawat udara angkatan laut Belanda.

Ketika kapal tersebut tergabung dalam Satuan Tugas Chusus-9 atau STC - 9 dengan mengemban misi infiltrasi mendaratkan pasukan Angkatan Darat di timur Kaimana sebagai langkah awal perjuangan Trikora.

"Namun demikian saat menuju daerah operasi ketika kapal perang Republik Indonesia berjenis MTB tersebut berhadapan dan diserang oleh kekuatan armada tempur Belanda," kata Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Bangka Belitung, Kolonel Laut (P) Muhamad Taufik dalam press rilis yang disampikan, Selasa (15/1/2019).

Saat pertempuran itu Sahabudin berpangkat kelasi I merupakan ABK RI Macan Tutul dan ikut pula dalam pertempuran sengit tersebut, ia (Sahabudin) merupakan putra daerah asal Desa Penyamun, Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka.

Lanjutnya, menyadari kekuatan yang tidak seimbang, saat itu Komodor Yos Sudarso yang berada di RI Macan Tutul mengambil alih komando kapal tersebut dengan melakukan manuver menyongsong gerak maju 3 kapal kombatan Belanda sehingga semua serangan semua kapal musuh hanya tertuju pada RI Macan Tutul.

"Pekik penuh semangat Komodor Yos Sudarso 'Kobarkan semangat pertempuran' yang diserukan melalui jaring komunikasi mengiringi perlawanan RI Macan Tutul menghadang armada Belanda," ungkap Taufik menceritkan riwayat sejarah peristiwa pertempuran di laut Aru pada waktu itu.

Meskipun begitu, akhirnya RI Macan Tutul tenggelam secara Gettle And Brave bersama sang Komodor Yos Sudarso yang gugur sebagai Kusuma Bangsa.

"Semangat pertempuran para pejuang kita saat itu tak akan pernah pudar dan lekang oleh waktu. Pertempuran penuh semangat membela negara di Laut Arafuru telah memberikan keteladanan sejati kepada kita tentang nilai dan semangat kejuangan, yakni sikap ksatria, rela berkorban dan tak pernah gentar menghadapi musuh," terangnya.

Bahkan perjuangan sekaligus pengorbanan jiwa raga itu tak lain sesungguhnya demi mempertahankan wilayah dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, nilai-nilai kejuangan tersebut harus diwarisi oleh seluruh prajurit TNI AL agar tetap tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat dan pengaruh Era Globalisasi, tantangan kita sebagai Garda pelindung keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Indonesia akan menjadi semakin kompleks. Sikap dan jiwa patriotisme prajurit matra laut akan terus tetap terjaga untuk mempertahankan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Melalui peringatan Hari Dharma Samudera ini, untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kejuangan, patriotisme dan kepahlawanan serta nilai-nilai keteladanan yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita. Hal tersebut sangat diperlukan dalam upaya mewujudkan TNI AL yang profesional dan modern serta berkemampuan proyeksi regional dan berkomitmen global," katanya.

(BANGKA POS/Ryan A Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved